PATROLI CIA COM PROVINSI NTT. Kinerja penjualan eceran di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan dinamika yang mulai membaik meski masih diwarnai fluktuasi permintaan masyarakat. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT mencatat, pada Februari 2026, aktivitas konsumsi mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, terutama pada kelompok kendaraan dan makanan-minuman.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2026 memang belum sepenuhnya stabil. Permintaan tercatat mengalami kontraksi dibandingkan Januari 2026, terutama pada beberapa kelompok barang non-esensial. Namun demikian, sejumlah komoditas utama seperti makanan dan minuman tetap menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT menyampaikan bahwa perkembangan ini mencerminkan pola musiman konsumsi masyarakat, yang cenderung menyesuaikan dengan momentum hari besar keagamaan dan aktivitas ekonomi lokal.
“Perbaikan konsumsi mulai terlihat, meskipun belum merata di seluruh sektor. Kami melihat adanya peningkatan pada kelompok barang kebutuhan pokok yang cukup signifikan,” ujarnya.
Dari sisi harga, Bank Indonesia memperkirakan adanya kenaikan dalam jangka pendek, khususnya dalam tiga bulan ke depan. Hal ini sejalan dengan meningkatnya permintaan menjelang berbagai momentum hari besar keagamaan. Namun, dalam jangka menengah, tekanan inflasi diproyeksikan akan menurun.
Proyeksi tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga yang menunjukkan tren kenaikan dalam jangka pendek, namun cenderung menurun dalam enam bulan ke depan. Kondisi ini mengindikasikan optimisme pelaku usaha dan konsumen terhadap stabilitas harga di masa mendatang.
Bank Indonesia juga menilai, daya beli masyarakat berpotensi terus menguat seiring membaiknya aktivitas ekonomi daerah. Berbagai program pengendalian inflasi yang dilakukan bersama pemerintah daerah dinilai mulai menunjukkan hasil yang positif.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai, termasuk ketidakpastian harga komoditas dan distribusi barang di wilayah kepulauan seperti NTT. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan otoritas moneter dinilai krusial untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan tren yang ada, Bank Indonesia optimistis konsumsi masyarakat akan terus membaik, sekaligus menjaga inflasi tetap dalam kisaran yang terkendali sepanjang tahun 2026.(Rjb)