PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pembangunan NTT tidak mungkin ditopang oleh pemerintah semata. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan generasi muda menjadi kunci untuk mempercepat perubahan di provinsi kepulauan tersebut.
Pesan itu disampaikan Melki dalam pidato pembangunan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Melki, peringatan kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni. Kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, mulai dari desa hingga wilayah perkotaan dan pulau-pulau terluar.
“Delapan puluh satu tahun Kemerdekaan Republik Indonesia mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan yang selesai dicapai, melainkan tanggung jawab yang terus diisi dari generasi ke generasi,” kata Melki.
Ia mengingatkan kembali gagasan Bung Karno mengenai kemerdekaan sebagai “jembatan emas”. Jembatan tersebut, kata dia, dibangun melalui perjuangan, keberanian, dan pengorbanan para pendahulu. Generasi sekarang berkewajiban memastikan jembatan itu membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih adil dan sejahtera.
Pembangunan Harus Terasa
Bagi NTT, mengisi kemerdekaan berarti memastikan pembangunan hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Indikatornya, antara lain, peningkatan produktivitas pertanian dan kelautan, penguatan peran perempuan dan generasi muda, pengembangan pariwisata dan kebudayaan, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, pembangunan infrastruktur, perbaikan pelayanan publik, serta pemerataan akses digital.
“Mengisi kemerdekaan berarti memastikan pembangunan benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat,” ujar Melki.
Ia menegaskan sepuluh agenda Dasa Cita Pemerintah Provinsi NTT tidak dapat dikerjakan secara terpisah. Keseluruhannya merupakan satu rangkaian kebijakan untuk mewujudkan NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.
Ada Tambahan Ruang Fiskal
Dalam pidatonya, Melki juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Pemerintah Pusat atas dukungan terhadap pembangunan NTT.
Salah satu dukungan tersebut berupa penambahan Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp1,094 triliun. Tambahan ruang fiskal itu dinilai dapat memperkuat kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi pelayanan dasar sekaligus mempercepat sejumlah program pembangunan.
Namun, Melki menekankan dukungan anggaran harus diikuti dengan perencanaan terpadu dan kerja lintas sektor. Pemerintah provinsi akan menyelaraskan Dasa Cita dengan Astha Cita serta arah pembangunan nasional.
“Indonesia hanya akan kuat apabila daerah-daerahnya kuat; Indonesia akan maju apabila desa-desanya maju; dan Indonesia akan sejahtera apabila kesejahteraan itu benar-benar dirasakan hingga ke wilayah terjauh negeri ini,” katanya.
Karena itu, pemerintah daerah akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, serta masyarakat.
Dasa Cita Kesepuluh
Semangat tersebut menjadi inti Dasa Cita Kesepuluh, “Ayo Bangun NTT, Kolaborasi Bersama.”
Melki mengatakan pembangunan daerah bukan pekerjaan satu institusi. Pemerintah berperan melalui kebijakan dan pelayanan, masyarakat melalui kerja dan kreativitas, dunia usaha melalui investasi dan penciptaan kesempatan, sedangkan generasi muda melalui gagasan, keberanian, dan inovasi.
“NTT tidak akan dibangun oleh satu tangan, satu lembaga, satu tingkat pemerintahan, atau satu generasi. NTT hanya akan maju ketika kita memilih untuk maju bersama,” ujarnya.
Menurut Melki, semangat kolaborasi telah diarahkan pada sejumlah sektor, antara lain perencanaan pembangunan, inovasi, pariwisata, olahraga, kepemudaan, serta kelautan dan perikanan.
Dari Selatan untuk Indonesia
Melki juga menempatkan NTT sebagai bagian strategis dari masa depan Indonesia. Posisi geografis di wilayah selatan, menurut dia, bukan alasan bagi NTT untuk berada di luar arus utama pembangunan nasional.
“Kita hidup di Selatan Indonesia, tetapi kita tidak pernah berada di pinggir cita-cita,” katanya.
NTT, lanjut Melki, memiliki modal besar berupa sumber daya alam, kekayaan laut, kebudayaan, serta generasi muda. Modal tersebut harus diolah menjadi kekuatan pembangunan yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus berkontribusi bagi Indonesia.
Ia mengajak masyarakat tidak hanya mempertanyakan apa yang telah diberikan kemerdekaan kepada generasi sekarang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kemerdekaan bukan hanya warisan yang kita terima, tetapi juga warisan yang harus kita teruskan dalam keadaan yang lebih baik,” ujarnya.
Jangan Menyerah dari NTT
Menutup pidatonya, Melki mengajak masyarakat NTT memperkuat persatuan, gotong royong, dan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pembangunan, katanya, harus bergerak dari desa ke kota, dari darat ke laut, dan menjangkau seluruh wilayah NTT, mulai dari Flores, Timor, Sumba, Alor, Rote, hingga pulau-pulau lainnya.
Ia menyerukan keberanian untuk memulai, ketekunan untuk bertahan, serta kesediaan untuk berjalan bersama.
“Itulah cara kita mengisi kemerdekaan. Itulah cara kita menghormati mereka yang memperjuangkannya. Dan itulah NTT yang hendak kita wariskan kepada generasi setelah kita,” kata Melki.
Dari wilayah selatan Indonesia, Melki menyerukan agar masyarakat NTT tidak menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
“Dari Selatan NKRI, dalam situasi apa pun, jangan menyerah. Cinta dan loyalitas NTT untuk NKRI adalah harga mati,” tegasnya.(rjb)