“251 Riset Bidik Masa Depan Ekonomi NTT, BI dan Pemprov Dorong Transformasi Daerah”

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Penguatan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan lebih dari sekadar potensi sumber daya alam. Riset yang terarah, kebijakan yang tepat, dan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting agar kekayaan daerah mampu menciptakan nilai tambah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Konferensi Final Kajian dan Riset Kebijakan Ekonomi Nusa Tenggara Timur (KARSA NUSA) 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT bersama Pemerintah Provinsi NTT di Hotel Aston Kupang, Selasa (20/10/2026).

Forum yang mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, dan pelaku usaha itu menjadi ruang untuk merumuskan gagasan pembangunan ekonomi daerah berbasis penelitian. Kegiatan tersebut sekaligus menandai puncak rangkaian KARSA NUSA yang telah dimulai sejak 23 April 2026.

Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT Adidoyo Prakoso mengatakan, KARSA NUSA dirancang untuk menghasilkan penelitian berkualitas yang dapat menjadi landasan penyusunan rekomendasi kebijakan strategis bagi pembangunan ekonomi daerah.

Antusiasme terhadap program tersebut terlihat dari jumlah karya ilmiah yang masuk. Sepanjang penyelenggaraan KARSA NUSA 2026, panitia menghimpun 251 makalah dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebanyak 182 makalah berasal dari kategori umum, sedangkan 69 lainnya merupakan karya peserta kategori mahasiswa.

Menurut Adidoyo, tantangan berikutnya bukan hanya menghasilkan penelitian, melainkan memastikan gagasan yang muncul dapat diterjemahkan menjadi kebijakan konkret dan dilaksanakan sesuai kebutuhan masyarakat.

Ia berharap hasil kajian tersebut dapat memperkuat perekonomian NTT sekaligus mendukung pembangunan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.

Peluang kawasan perdagangan bebas

Salah satu kajian yang dipaparkan dalam konferensi tersebut membahas potensi penerapan Free Trade Zone (FTZ) atau kawasan perdagangan bebas di NTT. Penelitian yang dilakukan tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana itu merupakan bagian dari kerja sama riset dengan BI.

Kajian tersebut mengeksplorasi peluang pengembangan kawasan perdagangan yang mengintegrasikan pusat logistik, perdagangan lintas batas, dan agroindustri pangan.

Gagasan itu menjadi salah satu alternatif yang dapat dikaji untuk memperkuat struktur ekonomi daerah. Namun, penerapannya memerlukan pembahasan lebih lanjut mengenai kesiapan infrastruktur, potensi komoditas, dukungan investasi, serta keterkaitan kegiatan perdagangan dengan produktivitas masyarakat setempat.

Jika dirancang sesuai karakteristik daerah, pengembangan pusat logistik dan agroindustri berpotensi memperluas akses pasar bagi produk lokal. Dengan demikian, hasil produksi masyarakat tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi juga memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.

Pembahasan tersebut dilanjutkan melalui diskusi publik bertajuk Menata Masa Depan Ekonomi NTT: Memperkuat Struktur, Menggerakkan Transformasi, Memberdayakan Masyarakat.

Diskusi menghadirkan Prof. Zaafri Ananto Husodo dari Universitas Indonesia, Dr. Maxensius Tri Sambodo dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta budayawan Pater Dr. David Amfotis, SVD., M.A. Ketiganya memberikan perspektif untuk memperkaya pembahasan mengenai arah pembangunan dan transformasi ekonomi NTT.

Riset sebagai dasar kebijakan

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi inisiatif BI dalam mendorong penguatan penelitian ekonomi daerah melalui KARSA NUSA.

Menurut dia, penelitian berperan penting dalam membantu pemerintah mengenali akar persoalan, menetapkan prioritas pembangunan, dan merancang program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Riset, lanjutnya, perlu menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan agar kebijakan pemerintah memiliki sasaran yang jelas dan hasil yang dapat diukur.

Pandangan tersebut menempatkan penelitian bukan semata-mata sebagai kegiatan akademis, melainkan sebagai instrumen untuk meningkatkan ketepatan perencanaan pembangunan.

Bagi NTT, pendekatan berbasis riset menjadi penting untuk mengidentifikasi sektor-sektor potensial, memperkuat keterhubungan antarsektor ekonomi, dan menentukan langkah yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

Melalui KARSA NUSA 2026, BI dan Pemerintah Provinsi NTT mendorong kesinambungan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia usaha.

Kolaborasi itu diharapkan dapat mempertemukan gagasan ilmiah dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan begitu, hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang program pembangunan yang terukur.

Tantangan selanjutnya adalah memastikan rekomendasi yang dihasilkan dapat ditindaklanjuti, sehingga penguatan struktur ekonomi dan transformasi daerah benar-benar membuka peluang pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat NTT.(Rjb)

“251 Riset Bidik Masa Depan Ekonomi NTTBI dan Pemprov Dorong Transformasi Daerah”