Program Adaptasi Iklim dan Konservasi Satwa Liar Berbasis Tanaman Lokal Tahan Kemarau

PATROLICIA COM PROPINSI NTT LABUAN BAJO  Sebanyak 2.600 pohon kedondong darat ditanam di kawasan Pulau Komodo sebagai bagian dari program adaptasi iklim sekaligus strategi pelestarian ekosistem satwa liar, termasuk Komodo. Penanaman ini digagas oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bekerja sama dengan mitra konservasi dan masyarakat lokal.

Tanaman kedondong dipilih karena memiliki keunggulan sebagai tanaman tahan kering. Dengan karakteristik batang yang menyimpan air, kedondong sangat cocok ditanam pada musim kemarau dan mampu bertahan di lahan tandus khas wilayah Nusa Tenggara Timur.

“Kalau ditanam di musim hujan, batang kedondong justru mudah membusuk. Jadi kami tanam justru saat musim kemarau agar bisa langsung tumbuh kuat. Ini menjadi bagian dari mitigasi krisis iklim dan solusi nyata menghadapi kekeringan,” kata Kepala Bappeda Manggarai Barat, Tuames Ka, dalam keterangannya.

Sebanyak 2.600 pohon kedondong ini ditanam menggunakan sistem stek yang bibitnya didatangkan dari daratan Flores. Selain mendukung ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga desa di sekitar kawasan konservasi, kedondong juga berfungsi ekologis sebagai pakan bagi satwa liar.

“Kehadiran tanaman ini akan menarik satwa-satwa kecil yang menjadi bagian dari rantai makanan Komodo. Jadi secara tidak langsung kita sedang memperbaiki keseimbangan ekosistem yang sempat terganggu,” jelas Tuames.

Ia menambahkan, upaya ini bukan sekadar penghijauan, melainkan juga penguatan ekonomi lokal. Dengan penanaman kedondong, warga memiliki alternatif penghasilan dari hasil panen buah maupun produk turunan lainnya.

Lebih penting lagi, penanaman dilakukan dengan pendekatan konservasi ketat, yakni hanya di zona yang tidak mengganggu habitat utama Komodo dan satwa endemik lainnya.

“Ini adalah contoh nyata bahwa konservasi dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Selama dilakukan dengan perencanaan dan tanggung jawab, masyarakat bisa dilibatkan tanpa merusak fungsi taman nasional,” tegasnya.

Inisiatif ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk komunitas pelestari lingkungan dan akademisi yang menilai pendekatan berbasis tanaman lokal lebih berkelanjutan dibanding model konservasi eksklusif(rjb)

Program Adaptasi Iklim dan Konservasi Satwa Liar Berbasis Tanaman Lokal Tahan Kemarau