CIRMA Tetapkan Arah Strategis 2026–2028: Perkuat Pembelajaran Iklim dan Kelembagaan Petani Kecil di Timor Barat
PATROLICIA COM PROPINSI NTT Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) CIRMA menetapkan arah strategis baru untuk periode 2026–2028 guna memperkuat kapasitas petani kecil di Timor Barat. Dalam konferensi pers di Hotel Neo Aston, Kupang, Kamis (4/12/2025), Direktur CIRMA, Jon Lajan, menyampaikan bahwa evaluasi enam bulan program Empowering West Timor mengungkap capaian signifikan, tetapi juga tantangan struktural yang harus segera dibenahi.
Menurut Jon, tahun 2025 merupakan fase awal program dengan fokus pada pendampingan intensif, uji model pembelajaran iklim, dan peningkatan kapasitas kelompok tani (poktan). “Kami ingin melihat apakah kegiatan yang berjalan selama lima hingga enam bulan ini benar-benar menghasilkan dampak nyata bagi petani. Evaluasi ini penting agar transformasi yang kami rencanakan sejak awal dapat berkelanjutan,” ujarnya.
Hasil Evaluasi: Antusiasme Tinggi, Kelembagaan Lemah
Dari analisis kontekstual, tim evaluator menyimpulkan bahwa petani Timor Barat menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pembelajaran iklim dan teknik agroekologi. Namun, pola belajar tersebut belum terstruktur dalam kurikulum yang utuh dan berjenjang. Akibatnya, pembelajaran berjalan kaya aktivitas, tetapi tidak selalu saling menguatkan.
Kelembagaan kelompok tani juga dinilai lemah. Banyak poktan belum memiliki SOP, mekanisme tabungan, sistem pencatatan produksi, maupun struktur kepengurusan aktif. Kondisi ini menyebabkan pengetahuan baru tidak sepenuhnya terinternalisasi dalam pengambilan keputusan tanam.
Di sisi lain, potensi sosial dan ekologis komunitas sangat besar. Modal sosial kuat, partisipasi tinggi, dan adopsi teknik organik berkembang pesat. Produksi kompos, POC, dan LOPEEZ (lopo eco enzyme) meningkat signifikan, bahkan menghasilkan nilai ekonomi lebih dari Rp 300 juta dari total 575 keluarga.
Namun, Jon menegaskan bahwa potensi itu belum otomatis menjadi peningkatan kesejahteraan. “Output besar belum terkonversi menjadi ekonomi yang stabil. Ini PR utama kami ke depan,” sambungnya.
Enam Pilar Transformasi CIRMA 2026–2028
Menjawab hasil evaluasi, CIRMA menetapkan enam pilar strategis:
- Pembelajaran Iklim Terintegrasi (Climate Learning Pathway)
Dirancang sebagai kurikulum resmi dalam enam tahap: SLI, SBI, Agroekologi, Demplot, Mentoring, dan Evaluasi Musim. - Penguatan Kelembagaan melalui Model Poktan 5 Pilar
Mencakup SOP organisasi, kepemimpinan, usaha, pengelolaan aset, dan sistem data sebagai fondasi kemandirian. - Transformasi Poktan menjadi Unit Usaha
Berbasis demplot hortikultura, produksi pupuk organik, dan benih lokal. - Tata Kelola Aset Air Bertani dan LOPEEZ
Pengelolaan profesional agar fasilitas komunal berfungsi sebagai instrumen livelihood jangka panjang. - Pembangunan Sistem Data Poktan
Dashboard kelompok tani berbasis bukti, terhubung dengan platform digital CIRMA. - Reformulasi Peran Fasilitator
Dari operator teknis menjadi katalis perubahan sosial dan kelembagaan.
Target 2027: Poktan Mandiri, Petani Mampu Mengambil Keputusan Berbasis Risiko Iklim
CIRMA menargetkan bahwa pada 2027:
- 100% desa dampingan menerapkan Climate Learning Pathway,
- 75% poktan memiliki SOP dan kepengurusan aktif,
- 50% poktan menjalankan unit usaha,
- seluruh aset fasilitas air bertani dan LOPEEZ memiliki SOP teknis-keuangan,
- semua poktan memiliki sistem data standar yang terkoneksi secara digital,
- serta petani mampu mengambil keputusan tanam berbasis risiko iklim.
Komitmen Baru: Dari Pendamping Teknis Menjadi Katalis Perubahan Komunitas
Jon Lajan menegaskan bahwa arah strategis baru CIRMA adalah pergeseran dari sekadar pendampingan teknis menuju katalis perubahan struktural di tingkat komunitas. Kombinasi pembelajaran iklim, penguatan kelembagaan, dan pengembangan usaha kolektif dirancang untuk membangun komunitas petani kecil yang mandiri, tangguh iklim, dan berkeadilan.
“Kami tidak hanya ingin mengajarkan teknik. Kami membangun struktur sosial, kepemimpinan, dan kapasitas ekonomi komunitas. Petani kecil Timor Barat harus menjadi aktor utama dalam menghadapi perubahan iklim dan membangun masa depan mereka sendiri,” tutup Jon.