Gerakan Sunyi Literasi dari Noelbaki: Mama-Mama dan Relawan Bangun Harapan Anak NTT Lewat Rumah Literasi Cakrawala

 

Dari dapur relawan hingga panggung kreasi anak, semangat literasi tumbuh di Desa Dendeng Noelbaki, Kabupaten Kupang. Rumah Literasi Cakrawala menjadi ruang kasih, harapan, dan perubahan bagi generasi muda Nusa Tenggara Timu

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.            Di sebuah sore hangat di Desa Dendeng Noelbaki, tawa anak-anak memecah keheningan. Di atas panggung sederhana, mereka menari, membaca puisi, dan bermain teater dengan semangat luar biasa. Di balik keceriaan itu, tersimpan kisah perjuangan para relawan, mama-mama dapur, dan pendidik yang dengan sukarela mengabdikan waktu mereka bagi pendidikan anak-anak NTT melalui Rumah Literasi Cakrawala.

Direktur Cakrawala NTT, Gusti Rikardo, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat.

“Kami ingin menyampaikan terima kasih kepada semua relawan, terutama mama-mama yang setiap pekan meluangkan waktu dua jam saja untuk mendampingi anak-anak di Rumah Literasi. Dari sinilah semangat perubahan tumbuh,” ujar Gusti saat acara penandatanganan nota kesepahaman dengan KBM Universitas Muhammadiyah Kupang dan Mendidi Project, Sabtu (25/10/2025).

Kesepakatan tersebut menandai komitmen bersama untuk mendampingi anak-anak berdasarkan kemampuan membaca mereka, dari yang belum mengenal huruf hingga yang sudah lancar membaca. Kegiatan pendampingan ini akan berlangsung setiap Sabtu sore.

Kata dari Hati: Literasi sebagai Tindakan Cinta

Dalam sambutannya, Dr. Yustina Ndun, perwakilan Rumah Literasi Cakrawala NTT, menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya tugas sekolah, tetapi terutama peran orang tua.

“Banyak daerah di NTT di mana anak-anak berhenti sekolah karena tidak ada motivasi dari rumah. Tapi di Dendeng Noelbaki, kita melihat kebalikannya. Orang tua hadir, menjemput, dan menemani anak-anak. Ini luar biasa,” katanya penuh haru.

Ia menambahkan, selama beberapa tahun terakhir, Cakrawala NTT telah menjangkau 10 kabupaten dan 400 sekolah di seluruh provinsi, memperkuat gerakan literasi dan numerasi di tingkat akar rumput.

“Kami tidak menunggu anak-anak sampai di puncak. Kami berjalan bersama mereka menuju puncak itu,” pungkas Yustina, disambut tepuk tangan meriah

Gereja dan Masyarakat Bergerak Bersama

Sementara itu, Pdt. Silvana A. Messakh-Manafe, M.Th, dari Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Pengharapan Noelbaki, mengungkapkan rasa syukurnya atas kolaborasi yang menginspirasi.

“Rumah Literasi Cakrawala tidak hanya mengajarkan membaca, tetapi membantu anak-anak menemukan minat dan bakat mereka — dari menulis, menyanyi, hingga olahraga. Anak-anak ini belajar mencintai proses,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah desa, sinode GMIT, serta relawan dari Fakultas Psikologi Undana dan Muhammadiyah Kupang. Menurutnya, gerakan literasi ini menjadi bukti bahwa pendidikan bisa tumbuh dari bawah, dari kasih dan gotong royong.

“Kami bermimpi ke depan bukan hanya ada ruang baca, tetapi juga ruang belajar tentang pertanian. Anak-anak harus mencintai tanah ini, mencintai bumi NTT,” tambahnya.

Harapan dari Dendeng Noelbaki

Rumah Literasi Cakrawala kini bukan sekadar tempat membaca. Ia telah menjadi titik temu cinta, belajar, dan kebersamaan. Setiap Sabtu, anak-anak dari berbagai penjuru datang, bahkan dari daerah sekitar Kantor Camat. Mereka belajar, berkreasi, dan percaya bahwa masa depan bisa mereka genggam dengan pengetahuan dan kepercayaan diri.

“Lihatlah bagaimana anak-anak ini berani tampil. Ini bukan soal kesempurnaan, tapi tentang keberanian untuk tumbuh,” tutup Pdt. Silvana dengan senyum hangat.

 

Dari Dendeng Noelbaki, obor kecil literasi itu menyala. Mungkin sederhana, namun cahayanya menembus batas desa, menyalakan harapan baru bagi Nusa Tenggara Timur.(Rjb)

 

Gerakan Sunyi Literasi dari Noelbaki: Mama-Mama dan Relawan Bangun Harapan Anak NTT Lewat Rumah Literasi Cakrawala