PLTU Ropa Diduga Cemari Air, Udara, dan Laut: Warga Ende Terhisap Debu Batu Bara Setiap Hari

 

ENDE, PATROLICIA COM NTT.        Dugaan pencemaran lingkungan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ropa di Desa Keliwimbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, memasuki fase mengkhawatirkan. Air sumur warga berubah hitam, debu batu bara menyelimuti permukiman tiap hari, dan hasil tangkapan nelayan berubah warna. Warga hidup dalam ancaman polusi, namun pengelola PLTU bungkam.

Bagi warga Keliwimbu, polusi bukan lagi ancaman masa depan—melainkan kenyataan yang mereka hirup, konsumsi, dan lihat setiap hari.

Aloysius, warga yang ditemui di muara belakang PLTU, menyebut perubahan lingkungan itu sebagai “kehancuran pelan-pelan”.

“Air sumur kami sudah hitam. Piring dan gelas semua ikut hitam. Debu masuk sampai ke makanan,” ujarnya, Senin (24/11/2025). Ia menambahkan, daun sayur tertutup debu hitam sehingga harus dicuci berkali-kali. “Sayur tidak segar lagi. Debunya ada terus. Bukan sehari dua hari.”

Muara Menghitam, Ikan Gelap, dan Debu di Pesisir

Pemantauan lapangan Kompas menemukan aliran limbah pekat berwarna hitam—mirip oli bekas—mengucur dari pipa PVC di pagar PLTU menuju muara. Bau menyengat tercium dari air yang seharusnya menjadi ruang hidup biota laut.

Ikan tangkapan warga yang berasal dari muara berwarna gelap dan berminyak. “Kalau mau makan ikan, harus cuci sampai lima kali. Kami takut anak-anak sakit,” kata Aloysius.

Di pesisir, pasir pantai berubah abu-abu gelap karena tertutup debu batu bara. Asap putih dari cerobong PLTU terlihat stabil bergerak mengikuti arah angin menuju pemukiman warga. Pada jam-jam tertentu, langit sekitar dusun tampak kabur oleh partikel halus hasil pembakaran batu bara

Tumpukan Batu Bara Terbuka, Limbah Mengalir, Tanpa Proteksi Memadai

Di sisi utara kompleks PLTU, tumpukan batu bara dibiarkan terbuka tanpa penutup. Rumput liar tumbuh di sela-selanya—tanda bahwa area itu lama tidak dikelola sesuai standar penyimpanan material berbahaya.

Beberapa excavator terlihat bolak-balik mengangkut batu bara ke ruang pembakaran. Namun yang membuat para warga cemas adalah pipa pembuangan limbah yang dipasang nyaris menempel fondasi pagar. Air limbah yang dialirkan gelap, kental, dan berminyak.

Jika benar limbah ini tidak melewati proses pengolahan optimal, maka air laut, air tanah, dan ekosistem pesisir berada dalam ancaman jangka panjang

Peringatan Keras: Polusi Batu Bara Bisa Mematikan

Ketua Satgas Anti Korupsi DPD I Partai Golkar NTT, Kasmirus Bara Bheri, menilai kondisi yang terjadi di PLTU Ropa sudah di luar batas kewajaran.

“Partikel PM2.5 dari batu bara bisa membunuh pelan-pelan. Masuk ke paru-paru, masuk ke darah,” ujarnya geram.

Ia mengingatkan bahwa polusi batu bara secara nasional diperkirakan menyebabkan 6.500 kematian dini setiap tahun. Penyakit jantung, stroke, kanker paru, hingga infeksi saluran pernapasan akut adalah dampak paling dominan.

“Ini bukan isu kecil. Ini soal nyawa warga. Kalau limbah mengandung arsenik atau logam berat, air tanah bisa rusak bertahun-tahun. Tidak ada alasan bagi PLTU untuk abai,” tegasnya.

Kasmirus berencana membawa temuan ini ke Gubernur NTT, Menteri Lingkungan Hidup, dan institusi gereja. “Masalah ini butuh langkah cepat, bukan janji. Regulasi harus ditegakkan.

Manajemen PLTU Ropa Bungkam

Saat dikonfirmasi pada Minggu (30/11/2025), Manajer PLTU Ropa Nanda Tarigan tidak memberikan jawaban. Pesan konfirmasi wartawan hanya dibalas oleh staf SDM bernama Daniel dengan satu kalimat pendek: “Selamat pagi, Bapak.”

Hingga berita ini terbit, tidak ada penjelasan resmi terkait perubahan warna air sumur, aliran limbah hitam ke muara, atau sebaran debu yang mencapai permukiman warga

Catatan Redaksi: Urgensi Pengawasan Lingkungan

Kasus PLTU Ropa di Ende menegaskan kembali urgensi pengawasan ketat terhadap pembangkit listrik berbasis batu bara, terutama di kawasan permukiman padat. Tanpa koreksi cepat, warga Keliwimbu terancam hidup di tengah polusi yang dapat membahayakan generasi sekarang dan generasi berikutnya.

dan Laut: Warga Ende Terhisap Debu Batu Bara Setiap HariPLTU Ropa Diduga Cemari AirUdara