PATROLICIA COM PROPINSI NTT Perayaan 75 tahun Kapela St. Hendrikus Binilaka, Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui, tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan panjang iman umat, tetapi juga menjadi ajakan untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Melalui kegiatan penanaman pohon dan pelepasan satwa ke habitat alaminya, umat menegaskan bahwa iman yang hidup harus berbuah dalam tanggung jawab menjaga ciptaan Tuhan.
Kegiatan sosial ini dilaunching di halaman Kapela St. Hendrikus Binilaka, Minggu (15/3/2026), sebagai rangkaian awal menuju perayaan puncak yubileum 75 tahun yang akan berlangsung pada September mendatang.
Suasana perayaan ditandai dengan dentang gong yang dipukul sebanyak 75 kali—melambangkan perjalanan panjang komunitas umat Katolik di Binilaka yang selama lebih dari tujuh dekade bertumbuh dan memelihara kehidupan iman di pinggiran Kota Kupang.
Perayaan yubileum ini mengusung tema “75 Tahun Berziarah dalam Iman, Bertumbuh dalam Kasih, Bersaksi dalam Pelayanan.” Tema tersebut tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga memuat refleksi sosial dan ekologis yang relevan dengan situasi dunia saat ini.
Sebagai bagian dari kegiatan sosial, umat menyiapkan berbagai anakan pohon buah seperti mangga, jambu air, dan nangka untuk ditanam dan dibagikan kepada umat di setiap Komunitas Umat Basis (KUB). Pada saat yang sama, sejumlah satwa seperti burung perkutut, kura-kura Ambon, dan ular sanca maclotoc dilepas kembali ke habitat alaminya di beberapa kawasan di Kupang dan sekitarnya.
Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang sekaligus Pastor Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui, Romo Kris Saku, PR, dalam homilinya mengingatkan bahwa gereja tidak boleh terjebak hanya pada aktivitas ritual.
“Gereja adalah umat Allah yang hidup. Ia hadir di tengah kehidupan manusia dan dipanggil untuk membawa terang bagi mereka yang membutuhkan harapan,” ujar Romo Kris.
Ia menegaskan bahwa perjalanan gereja selalu diwarnai dinamika antara harapan dan tantangan. Namun, iman harus tetap menanamkan kebaikan.
“Ketika kita menanam kebaikan, memang selalu ada ‘rumput’ yang ikut tumbuh. Tetapi kebaikan tidak pernah lahir dari kejahatan. Karena itu gereja harus terus menanam yang baik,” katanya.
Refleksi tersebut juga berkaitan dengan krisis ekologis global yang semakin nyata, seperti perubahan iklim, kerusakan hutan, dan hilangnya habitat satwa. Gereja Katolik melalui Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan pada 2015 telah menyerukan pentingnya “pertobatan ekologis”, yakni kesadaran bahwa manusia tidak boleh mengeksploitasi alam, melainkan menjaganya sebagai rumah bersama.
Ketua Panitia Yubileum 75 Tahun Kapela St. Hendrikus Binilaka, Prof. Tony Ola, mengatakan penanaman pohon dan pelepasan satwa merupakan wujud konkret spiritualitas ekologis yang dihidupi umat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa iman tidak berhenti pada doa. Iman juga berarti menjaga ekosistem, memelihara alam, dan hidup selaras dengan ciptaan Tuhan,” ujarnya.
Sebanyak 75 pohon akan ditanam dan dibagikan kepada umat sebagai simbol perjalanan kapela yang telah melewati tiga perempat abad. Pohon-pohon tersebut diharapkan tumbuh bersama generasi baru umat.
Kegiatan ini juga melibatkan tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat, antara lain Daud Mananel, Daniel Mananel, anggota DPRD NTT Cely Ngganggus, dr. Kamelus Karanganora, serta para suster dari Biara CB. Keterlibatan mereka menegaskan bahwa gereja di Nusa Tenggara Timur tidak terpisah dari akar budaya dan kehidupan masyarakat.
Tokoh umat sekaligus Ketua Dewan Pastoral Kapela Binilaka, Dr. Domi Wara, mengingatkan bahwa sejarah kapela ini lahir dari perjalanan panjang umat yang membangun kehidupan gereja secara sederhana sejak masa awal pelayanan di wilayah Naimata.
“Kapela ini adalah kapela kedua yang lahir dari semangat umat di wilayah ini. Semua dimulai dari kebersamaan dan iman yang sederhana,” katanya.
Bagi umat Binilaka, merayakan 75 tahun bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menegaskan arah perjalanan gereja di masa depan.
Dalam refleksinya, Romo Kris kembali menegaskan bahwa gereja harus tetap menjadi ruang pengharapan di tengah dunia yang sering kehilangan arah.
“Kita dipanggil menjadi gereja yang membawa pengharapan, gereja yang terlibat dalam karya Kristus dan hadir memberi terang bagi dunia,” ujarnya.
Simbol-simbol dalam perayaan yubileum ini pun dipilih dengan makna yang mendalam. Pohon melambangkan iman yang berakar dan bertumbuh, sementara satwa yang dilepas melambangkan kebebasan serta tanggung jawab manusia terhadap alam.
Dari sebuah kapela sederhana di Binilaka, pesan yang hendak disampaikan menjadi jelas: iman tidak hanya dirayakan, tetapi juga ditanam, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya—seperti pohon yang tumbuh perlahan namun memberi kehidupan bagi banyak orang.