PATROLI CIA COM PROVINSI NTT. Kinerja sektor jasa keuangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan akselerasi signifikan pada awal 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lonjakan tajam pada penyaluran kredit, diikuti pertumbuhan aset dan dana masyarakat, yang menandakan meningkatnya aktivitas ekonomi sekaligus kepercayaan publik terhadap perbankan.
Plt Kepala OJK NTT Jimmy Simarmata mengungkapkan, hingga Februari 2026 sektor jasa keuangan di wilayah tersebut tumbuh positif, terutama ditopang peningkatan aset, kredit, dan dana pihak ketiga (DPK) perbankan.
“Pertumbuhan ini mencerminkan intermediasi perbankan yang semakin kuat dalam mendukung perekonomian daerah,” ujar Jimmy dalam kegiatan media gathering di Kuta, Bali, Selasa. 28 April 2026
Berdasarkan data OJK, total aset perbankan di NTT tercatat meningkat 7,45 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) atau bertambah Rp3,19 miliar. Namun, lonjakan paling mencolok terjadi pada penyaluran kredit yang tumbuh 24,75 persen (yoy) atau naik Rp6,46 miliar.
Di sisi lain, DPK juga tumbuh 15,05 persen (yoy) atau sebesar Rp5,32 miliar. Kenaikan ini dinilai sebagai indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.
Dari sisi intermediasi, rasio loan to deposit ratio (LDR) berada pada level 116,16 persen, sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tercatat 3,57 persen, masih dalam batas terjaga.
Penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terus menguat. Hingga Februari 2026, kredit UMKM mencapai Rp17,42 miliar dengan tren stabil. Sementara itu, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah menembus Rp2,77 triliun kepada 65.084 debitur.
Di sektor pasar modal, jumlah investor saham di NTT melonjak menjadi 182.188 single investor identification (SID), atau tumbuh 59,10 persen (yoy). Nilai transaksi saham bahkan melejit 622,14 persen (yoy), mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi.
Adapun sektor industri keuangan non-bank, seperti perusahaan pembiayaan dan dana pensiun, juga mencatat pertumbuhan dengan piutang pembiayaan naik 11,81 persen (yoy), meski pembiayaan modal ventura masih mengalami kontraksi.
Jimmy menegaskan, capaian tersebut menunjukkan ketahanan sektor jasa keuangan NTT di tengah dinamika ekonomi. “Ini menandakan sektor keuangan tetap resilien dan mampu menopang aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
OJK menilai peningkatan literasi dan inklusi keuangan menjadi faktor kunci di balik pertumbuhan tersebut, terutama melalui perluasan akses pembiayaan UMKM dan peningkatan partisipasi masyarakat di pasar modal.
Ke depan, OJK berkomitmen menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.(Rjb)