AJIVE di Kupang: Ilmuwan Jepang dan NTT Satukan Langkah Hadapi Ancaman Rabies

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT.    Upaya memperkuat ketahanan kesehatan hewan dan manusia di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi fokus utama Konferensi Ke-10 Asian-Japan Initiative for Veterinary Education (AJIVE) yang berlangsung di Kupang. Forum ilmiah ini mendorong sinkronisasi data medis antara dinas peternakan dan dinas kesehatan sebagai langkah strategis memutus rantai penularan penyakit zoonosis kepada manusia.

Pada hari kedua pelaksanaan konferensi, para akademisi, peneliti, dan praktisi kesehatan hewan dari Indonesia dan Jepang menegaskan pentingnya pendekatan terpadu dalam pengendalian penyakit zoonosis. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk mempercepat deteksi dini, pelaporan kasus, hingga penanganan wabah yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.

Konferensi tersebut melanjutkan rangkaian kegiatan yang diawali dengan upacara pembukaan dan jamuan makan malam pada Jumat (5/6/2026) di Auditorium Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang. Agenda itu menandai dimulainya komitmen kolaboratif selama tiga hari antara perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra internasional dalam memperkuat sistem kesehatan hewan dan manusia.

Salah satu perhatian utama dalam forum ini adalah tingginya ancaman penyakit zoonosis, terutama rabies, yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah NTT. Para peserta konferensi menilai pengendalian penyakit tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui integrasi kebijakan, data, dan tindakan di lapangan.

Melalui AJIVE ke-10, para ilmuwan dan pakar veteriner diharapkan dapat melahirkan rekomendasi berbasis riset yang aplikatif bagi pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan lainnya. Rekomendasi tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem biosekuriti, meningkatkan kualitas layanan kesehatan hewan, serta memperbaiki tata kelola peternakan yang berkelanjutan.

Kehadiran institusi pendidikan dan riset dari Jepang juga membuka peluang transfer teknologi serta pertukaran pengetahuan dalam pengelolaan kesehatan ternak modern. Pengalaman Jepang dalam pengendalian penyakit hewan dinilai dapat menjadi referensi penting bagi NTT yang memiliki sektor peternakan sebagai salah satu penopang ekonomi daerah.

Selain melindungi kesehatan masyarakat, peningkatan standar biosekuriti diharapkan mampu mendongkrak daya saing komoditas peternakan NTT. Dengan sistem kesehatan hewan yang lebih baik, produk peternakan daerah berpeluang memenuhi standar internasional

sekaligus memperluas akses pasar.
Konferensi AJIVE ke-10 pun menjadi momentum penting bagi NTT untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik, pemerintah, dan mitra global dalam menghadapi ancaman zoonosis. Di tengah meningkatnya risiko penyakit menular lintas spesies, kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan menjadi fondasi utama untuk menjaga kesehatan masyarakat dan keberlanjutan sektor peternakan daerah.(Rjb)

AJIVE di Kupang: Ilmuwan Jepang dan NTT Satukan Langkah Hadapi Ancaman Rabies