PATROLI CIA COM PROVINSI NTT. Setelah melewati perjalanan pelayanan selama 81 tahun dan menghadapi kerusakan gedung akibat longsor pada 1997, Jemaat GMIT Efata Taninri’in–Tunbaun, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, memulai pembangunan gedung kebaktian baru.
Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Kupang Yosef Lede dalam rangkaian ibadah Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Jemaat GMIT Efata Taninri’in, Minggu (20/9/2026) pagi.
Bagi jemaat, pembangunan gedung tersebut bukan sekadar pembangunan fisik. Gedung baru diharapkan menjadi ruang persekutuan dan pelayanan yang mampu menopang perkembangan kehidupan jemaat untuk tahun-tahun mendatang.
Bupati Kupang Yosef Lede dalam sambutannya menyampaikan selamat atas 81 tahun perjalanan pelayanan Jemaat GMIT Efata Taninri’in. Ia menilai usia tersebut mencerminkan perjalanan panjang yang diwarnai tantangan sekaligus ketekunan jemaat dalam mempertahankan iman, persekutuan, dan pelayanan.
“Usia 81 tahun bukan waktu yang singkat. Ada perjalanan panjang, ada tantangan, tetapi juga ada banyak penyertaan Tuhan yang membuat jemaat ini tetap bertumbuh dan terus melayani,” kata Yosef.
Menurut dia, momentum HUT ke-81 tidak hanya menjadi kesempatan untuk bersyukur, tetapi juga memperkuat kebersamaan jemaat dalam menghadapi berbagai tantangan pelayanan.
Yosef berharap pertumbuhan jemaat tidak hanya diukur dari jumlah anggota, tetapi juga dari kekuatan iman, persaudaraan, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Ia mengatakan, gereja memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat dan merawat persatuan di tengah perbedaan.
“Gereja bukan hanya tempat kita beribadah, tetapi juga tempat kita membangun persaudaraan, membentuk karakter, dan belajar untuk hidup bersama,” ujarnya.
Pembangunan Harus Jadi Kerja Bersama
Terkait pembangunan gedung kebaktian, Yosef mengingatkan jemaat agar menjadikan peletakan batu pertama sebagai awal dari sebuah pekerjaan bersama.
Menurut dia, pembangunan rumah ibadah membutuhkan kebersamaan, kesabaran, pengorbanan, serta kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah.
“Kalau ada perbedaan dalam prosesnya, itu sesuatu yang biasa. Yang penting, setiap perbedaan diselesaikan melalui musyawarah sehingga kita mendapatkan keputusan yang baik dan dapat diterima bersama,” katanya.
Ia juga mendorong agar pembangunan dilakukan dengan semangat gotong royong dan tanggung jawab.
“Jangan sampai pembangunan ini hanya menjadi pekerjaan beberapa orang. Ini adalah pekerjaan seluruh jemaat, sehingga semua harus mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing,” ujar Yosef.
Dengan semangat tersebut, gedung yang dibangun diharapkan tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi menjadi rumah bersama yang dapat menunjang pelayanan gereja dalam jangka panjang.
Berawal dari Kerusakan Akibat Longsor
Sementara itu, dalam penyampaian suara hati jemaat, Aprianus Mamun menjelaskan perjalanan Jemaat GMIT Efata Taninri’in selama 81 tahun tidak terlepas dari berbagai tantangan.
Salah satunya adalah bencana longsor pada 1997 yang menyebabkan kerusakan berat pada gedung gereja.
Menurut Aprianus, gedung yang digunakan jemaat hingga kini masih dapat dimanfaatkan. Namun, kondisi sejumlah bagian bangunan, terutama dinding, sudah tidak memadai untuk menunjang kebutuhan pelayanan jemaat.
Atas kondisi tersebut, jemaat kemudian bersepakat pada 2026 untuk membangun gedung kebaktian yang baru.
“Gedung yang kita gunakan saat ini masih bisa dimanfaatkan, tetapi kondisi dinding sudah tidak memadai. Karena itu, pada tahun 2026, jemaat bersepakat untuk membangun gedung kebaktian yang lebih baik,” katanya.
Perkembangan pelayanan juga ditandai dengan berdirinya Pos PI Sion Han sebagai jemaat mandiri. Sementara itu, tiga Pos PI lainnya masih melanjutkan pelayanan.
Aprianus menyampaikan apresiasi kepada Bupati Kupang, pimpinan gereja, pemerintah, serta seluruh pihak yang memberikan dukungan terhadap pembangunan gedung kebaktian tersebut.
Ia berharap dukungan dan kebersamaan yang telah terbangun dapat dipertahankan hingga pembangunan selesai.
“Kami berharap dukungan dan kebersamaan ini terus terpelihara hingga pembangunan selesai. Kiranya gedung ini dapat menjadi tempat persekutuan dan pelayanan yang memberkati jemaat,” tuturnya.
Ibadah HUT ke-81 dan peletakan batu pertama tersebut turut dihadiri Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Pandie, S.Th., Kasat Pol PP Aprion Lona, Kepala Dinas PUPR Tonci Teuf, Kepala Pelaksana BPBD Nofliyanto Amtiran, Ketua Majelis Klasis Amarasi Barat Pdt. Doris Lopo Bois, S.Th., Sekretaris Camat Amarasi Barat, para pendeta, serta Penjabat Kepala Desa Tunbaun.(Rjb)