KOTA KUPANG, PATROLICIA.COM – Kegiatan penimbangan anak bayi balita (bawah lima tahun) di seluruh puskesmas Kota Kupang hampir tuntas atau hampir mencapai 100 persen. Bahkan ada puskesmas yang capaian timbang anak bayi balita lebih dari 100 persen. Hanya saja belum semua data anak bayi balita yang ditimbang telah terinput ke Dinas Kesehatan, sehingga Dinkes juga belum dapat memastikan data terkini perkembangan jumlah anak stunting di Kota Kupang. Saat ini baik tenaga kesehatan puskesmas maupun pihak kelurahan masih fokus pada kegiatan penimbangan.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati saat dijumpai tim media ini di Puskesmas Maulafa Kota Kupang pada Selasa (30/08/2022).
“Saya kunjung ke Puskesmas Maulafa karena data (penimbangan anak bayi balita, red) yang terinput di Dinas Kesehatan Kota Kupang baru 50 persen. Saya ingin membuktikan apakah benar baru 50 persen? Kemudian kesulitannya dimana? Oleh karena itu saya bertemu dengan petugas Puskesmas dan pegawai dari Kelurahan juga tenaga gizi untuk memastikan apakah capaian ini sudah sesuai? Ternyata capaiannya lebih besar (dari 50 persen, red) hanya belum diinput. Karena memang yang dikejar saat ini timbangnya dulu,” jelasnya.
Menurut Dokter Retnowati, masih ada waktu sampai September 2022 untuk menginput semua data terkait bayi/balita, sehingga Pemkot Kupang akan baru mendapatkan data yang valid terkait jumlah anak stunting di Kota Kupang. Puskesmas-puskesmas saat ini masih dalam tahapan mencari dan menemukan data bayi/balita semaksimal mungkin. “Tetapi di kelurahan-kelurahan tetangga (dari Kelurahan Maulafa yaitu seperti Alak dan Naioni, red) capaiannya sudah lebih dari 100 persen,” tegasnya.
Dokter Retnowati menjelaskan, alasan belum selesainya kegiatan penimbangan anak bayi balita di seluruh puskesmas di Kota Kupang karena karakter hidup banyak masyarakat di Kota Kupang yang nomaden, tidak tinggal permanen atau tidak tetap, selalu berpindah-pindah. Hal tersebut merupakan alasan mengapa capaian kegiatan penimbangan tidak sama. Ada yang sudah 100 persen bahkan ada yang melebihi 100 persen, tetapi juga ada yang capaiannya rendah.
Dinkes Kota Kupang sendiri, kata dokter Retnowati, memiliki tiga jenis data anak bayi balita di Kota Kupang yaitu data proyeksi dan data ril serta data Dispenduk. Data proyeksi yaitu data perkiraan jumlah bayi/balita dalam kurun waktu selama satu tahun. Lalu data ril itu data yang selama ini didapatkan dari kegiatan di lapangan baik oleh pihak kelurahan maupun tenaga kesehatan. Sedangkan data berbasis Dispenduk, yaitu data yang diperoleh berdasarkan data dari Dispenduk.
“Artinya anak sudah memiliki data KTA (Kartu Tanda Anak) yang sudah terdata dalam kartu keluarga dan sudah ada NIK-nya. Kita sudah punya data itu by name by address sehingga kita nanti kompilasikan dan dari situ kita akan tetapkan yang mana yang akan dipakai untuk jumlah stuntingnya,” jelasnya.
Dari data proyeksi, lanjut Dokter Retnowati, saat ini jumlah stunting di Kota Kupang sudah turun jauh dibanding data stunting Kota Kupang sebelumnya (Maret 2022, red) yaitu 25,1. “Karena memang anak yang tidak stunting banyak juga yang tidak datang/hadir di kegiatan penimbangan bayi balita di Posyandu. Saat ini jumlah (stunting) kita yaitu 23,3 persen. Kita harapkan Kota itu nantinya 20 persen hingga di bawah 20-an persen,” ujarnya.
Kadis Kota Kupang itu juga menjelaskan, bahwa Pemerintah Kota Kupang untuk saat ini belum sampai tahapan penanganan stunting, karena tahun 2022 ini Kota Kupang baru menjadi locus stunting. “Kita tahapannya itu pertama, kita buat perencanaan, SK Tim, lalu nanti rembuk stunting, yang hasil dari data penimbangan ini akan kami sampaikan dan kita sampaikan locus stuntingnya, wilayah kelurahan mana yang terbesar, lalu intervensi anggarannya berapa, lalu kita tetapkan dimana fokus sasaran intervensinya,” bebernya. (rjb)