PATROLICIA COM PROPINSI NTT. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur menegaskan komitmennya untuk selalu siaga dan hadir di tengah masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana alam yang kerap melanda wilayah NTT. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Apel Siaga Bencana yang digelar di Sekretariat DPD PDI Perjuangan NTT, Senin (29/12).
Sekretaris DPD PDI Perjuangan NTT, Patris Lali Wolo, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menjadi prinsip utama partai dalam menghadapi berbagai potensi bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, hingga erupsi gunung api yang rawan terjadi di NTT.
“Pegangan utama kita adalah kesiapsiagaan. NTT merupakan wilayah rawan bencana, sehingga seluruh elemen partai harus selalu siap, sigap, dan responsif. Ini adalah perintah langsung Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri, agar seluruh kader hadir bersama rakyat, menolong dengan cepat, dan bekerja dengan hati,” ujar Patris.
Ia menegaskan, PDI Perjuangan tidak hanya hadir dalam momentum politik, tetapi juga dalam situasi krisis kemanusiaan. Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan didorong untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, kemampuan teknis, serta profesionalisme dalam penanganan bencana.
“Partai harus hadir sebelum, saat, dan setelah bencana. Kita harus mampu menolong, menyapa, dan meringankan beban rakyat. PDI Perjuangan akan selalu berdiri bersama rakyat, menangis dan bangkit bersama rakyat,” tegasnya.
Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana, Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan NTT, Lili Adoe, menambahkan bahwa komitmen tersebut diwujudkan melalui pernyataan sikap bersama seluruh jajaran partai. PDI Perjuangan, katanya, berkomitmen merawat Pertiwi dan bersinergi dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam upaya mitigasi bencana.
“Melalui Badan Penanggulangan Bencana (Baguna), PDI Perjuangan siap bekerja bersama rakyat, mulai dari tahap pra-bencana, saat tanggap darurat, hingga pascabencana. Ini adalah bentuk nyata keberpihakan partai terhadap keselamatan rakyat,” ujar Lili.
Sementara itu, Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Eltari Kupang, Helny Yofin Mega Milla, mengingatkan bahwa ancaman bencana di NTT dapat terjadi kapan saja. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi cuaca ekstrem, banjir, longsor, dan gempa bumi, terutama memasuki musim hujan.
“BMKG terus menyediakan informasi resmi terkait cuaca, gempa bumi, dan potensi bencana lainnya. Kami mengimbau masyarakat untuk selalu mengakses informasi dari sumber resmi agar tidak terjebak hoaks,” katanya.
Hal senada disampaikan Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi NTT, Gasper Losa Manisa. Menurutnya, NTT merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi sehingga kesiapsiagaan menjadi kunci utama.
“Bencana bisa terjadi kapan saja. Karena itu, kesiapan adalah kunci keselamatan. Kolaborasi antara pemerintah, partai politik, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mengurangi risiko bencana,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, PDI Perjuangan NTT juga menyampaikan pernyataan komitmen bersama, antara lain menjaga dan merawat lingkungan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta memastikan kesiapsiagaan di seluruh tahapan bencana—pra, saat, dan pascabencana.
Apel siaga ini menjadi penegasan bahwa PDI Perjuangan NTT menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama, sekaligus memperkuat pesan bahwa menghadapi bencana adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan solidaritas, gotong royong, dan kesiapan berkelanjutan.