60 Karyawan Hotel di Kupang Dilatih Hadapi Gempa dan Kebakaran

3,775

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Keselamatan tamu dan pekerja menjadi perhatian Hotel Swiss-Belcourt Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 60 karyawan dari berbagai bagian hotel mengikuti simulasi menghadapi gempa bumi dan kebakaran sebagai upaya memperkuat kesiapan menghadapi keadaan darurat.

Pelatihan yang berlangsung di halaman hotel itu tidak sekadar memberikan pemahaman mengenai prosedur keselamatan. Para peserta juga diminta mempraktikkan tahapan evakuasi hingga penanganan awal kebakaran.

General Manager Swiss-Belcourt Kupang Dedi John Hidayat mengatakan, kesiapsiagaan menjadi penting bagi pengelola hotel karena gedung perhotelan merupakan tempat yang dihuni banyak orang dengan latar belakang berbeda.

“Melihat potensi dan dinamika kebencanaan di wilayah NTT, seperti bencana gempa yang terjadi di kawasan Flores, kami tidak boleh lengah,” kata Dedi.

Menurut dia, keselamatan tamu dan karyawan merupakan prioritas manajemen. Karena itu, setiap pekerja perlu memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi sehingga kepanikan dapat ditekan.

Dalam simulasi gempa, peserta diperkenalkan kembali pada prosedur drop, cover, and hold on untuk melindungi diri ketika guncangan terjadi. Setelah kondisi dinyatakan memungkinkan, peserta diarahkan keluar melalui jalur evakuasi menuju titik kumpul atau assembly point.

Skenario berbeda diterapkan dalam latihan kebakaran. Peserta mendapat praktik penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk menangani sumber api pada tahap awal. Penggunaan kain basah juga diperagakan sebagai salah satu tindakan awal sebelum bantuan petugas pemadam kebakaran datang.

Ketua panitia pelaksana mengatakan, pelatihan sengaja dibuat dengan pendekatan praktik agar karyawan tidak hanya mengetahui prosedur secara teori, tetapi mampu menerapkannya ketika menghadapi keadaan sebenarnya.

Sebanyak 60 personel dari sejumlah departemen hotel terlibat dalam simulasi tersebut. Mereka dilatih untuk mengenali jalur penyelamatan, bergerak menuju titik evakuasi, serta melakukan penanganan awal terhadap kebakaran.

Dedi berharap latihan semacam itu dilakukan secara berkala. Dengan demikian, setiap karyawan memiliki refleks dan pemahaman yang sama ketika menghadapi kondisi darurat.

“Melalui fire drill dan simulasi gempa ini, kami memastikan seluruh karyawan memiliki kesiapan mental serta respons cepat dalam menghadapi situasi darurat,” ujarnya.

Bagi manajemen hotel, kesiapan menghadapi bencana bukan hanya persoalan prosedur, tetapi juga bagian dari upaya menjaga standar keamanan dan memberikan rasa aman kepada tamu serta seluruh pekerja.