PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Festival Budaya Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Jumat (7/8/2026), berlangsung meriah dan dipadati warga yang antusias menyaksikan berbagai atraksi seni dan budaya lokal. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Wali Kota Kupang, Dr. Christian Widodo, menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Kupang untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat pembangunan berbasis masyarakat.
Di hadapan masyarakat Naioni, Christian menegaskan bahwa pelestarian budaya menjadi salah satu agenda penting pemerintah kota. Karena itu, Pemkot Kupang telah menyiapkan program Festival Budaya yang akan digelar secara bergilir di seluruh 51 kelurahan setiap tahun.
“Budaya adalah warisan yang harus kita jaga bersama. Salah satu komitmen Pemerintah Kota Kupang adalah menghadirkan festival budaya di seluruh kelurahan. Kami sudah menyiapkan anggaran khusus sehingga kegiatan ini bisa berlangsung setiap tahun,” ujar Christian.
Menurut dia, festival budaya bukan sekadar hiburan masyarakat, melainkan ruang untuk merawat tradisi, memperkuat identitas lokal, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Kupang kepada generasi muda.
Festival di Kelurahan Naioni menampilkan beragam pertunjukan seni tradisional, tarian daerah, musik budaya, serta partisipasi aktif masyarakat yang menunjukkan kuatnya semangat menjaga kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
Selain menyoroti pelestarian budaya, Christian juga menegaskan komitmen pemerintah kota dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Salah satunya melalui pembangunan dan pembenahan kantor-kantor kelurahan sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat.
“Kantor lurah adalah ujung tombak pelayanan. Tempat yang paling sering berinteraksi dengan masyarakat adalah kantor kelurahan. Karena itu, fasilitasnya harus representatif, nyaman, dan ramah bagi semua warga, termasuk penyandang disabilitas,” katanya.
Ia menilai sejumlah fasilitas di kantor kelurahan sudah cukup baik, namun masih perlu penyempurnaan, terutama penyediaan sarana pendukung bagi penyandang disabilitas seperti jalur landai atau ramp bagi pengguna kursi roda.
Di sektor infrastruktur, Christian memastikan pembangunan jalan tetap berjalan meski pemerintah daerah menghadapi kebijakan efisiensi anggaran. Menurut dia, berbagai proyek strategis tetap dapat dilaksanakan melalui pengelolaan anggaran yang tepat dan terukur.
“Di tengah efisiensi anggaran, kita tetap bisa membangun jalan. Jalan di kawasan GOR yang sebelumnya tergenang sudah diperbaiki, Jalan Taebenu yang sempat ambruk juga telah ditangani, termasuk sejumlah jalan lingkungan dan gang-gang kecil yang terus kita benahi secara bertahap,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa perbaikan seluruh ruas jalan di Kota Kupang tidak bisa dilakukan sekaligus. Namun, pemerintah berkomitmen untuk terus melanjutkan pembangunan secara berkelanjutan sesuai kemampuan keuangan daerah.
“Memang tidak mungkin semua jalan selesai dalam waktu singkat. Tetapi yang penting adalah pembangunan terus berjalan. Dengan efisiensi yang ada, kita masih mampu menghadirkan banyak pekerjaan yang langsung dirasakan masyarakat,” kata Kristan.
Festival Budaya Naioni pun menjadi gambaran sinergi antara pelestarian budaya dan pembangunan daerah yang sedang dijalankan Pemerintah Kota Kupang. Di tengah berbagai tantangan, pemerintah berupaya memastikan pembangunan fisik berjalan seiring dengan penguatan identitas budaya masyarakat sebagai modal penting menuju Kota Kupang yang maju, inklusif, dan berkarakter.(Rjb)