Dari Ring, Kota Kupang Melawan Tantangan Zaman

3,773

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT        Wali Kota Kupang Christian Widodo mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan tidak sekadar dengan mengenang perjuangan melawan penjajah, tetapi juga dengan membangun manusia yang tangguh, berkarakter, dan memiliki solidaritas sosial. Pesan itu disampaikan dalam kejuaraan tinju yang digelar di arena pameran HUT ke-81 Kemerdekaan RI di halaman Harper Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Menurut Christian, olahraga tinju memiliki filosofi yang relevan dengan kehidupan. Seorang petinju tidak hanya dituntut memiliki kekuatan fisik, tetapi juga disiplin, tanggung jawab, mental kuat, serta kemampuan untuk bangkit setelah terjatuh.

“Seorang petinju sejati tidak dinilai dari kerasnya pukulan, tetapi dari kemampuannya bangkit kembali ketika jatuh,” kata Christian.

Ia mengatakan, kejuaraan tersebut bukan hanya menjadi ajang mencari bibit atlet berprestasi untuk mewakili Kota Kupang pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) 2026. Atlet-atlet potensial juga diproyeksikan untuk menjadi bagian dari pembinaan jangka panjang menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

 

Christian juga menilai kejuaraan itu menjadi bagian dari upaya mengisi kemerdekaan melalui pembangunan sumber daya manusia. Olahraga, kata dia, dapat menjadi sarana membentuk generasi yang disiplin, bermental tangguh, bertanggung jawab, dan berkarakter.

“Di tinju kita belajar banyak hal. Ada disiplin, tanggung jawab, mental yang tangguh, serta semangat untuk jatuh dan bangkit lagi,” ujarnya.

Melawan “Penjajah” Masa Kini

Christian mengingatkan, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Jika dahulu bangsa Indonesia berhadapan dengan penjajah dan ancaman senjata, kini masyarakat menghadapi persoalan yang tidak kalah berat.

Ia menyebut penyalahgunaan teknologi, berita bohong, narkoba, judi daring, kemiskinan, pengangguran, kebodohan, hingga ketidakadilan sebagai tantangan yang harus dihadapi bersama.

“Perjuangan harus kita lanjutkan. Bedanya, lawannya sekarang berbeda. Kalau dulu melawan penjajah, sekarang kita melawan persoalan-persoalan yang melemahkan kehidupan dan persatuan,” katanya.

Karena itu, momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi pengingat agar masyarakat terus berjuang mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata dan membangun kualitas manusia.

Piala dari Bahan Daur Ulang

Dalam kesempatan tersebut, Christian juga mengapresiasi penyelenggara yang kembali menghadirkan piala bergilir dalam kejuaraan tinju. Piala tersebut dibuat dari bahan sisa kayu dan material daur ulang.

Menurut dia, penggunaan material daur ulang bukan sekadar pilihan teknis, tetapi juga pesan agar masyarakat semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan.

“Ini baru dimulai sejak saya bersama Ibu Wakil Wali Kota Serena memimpin Kota Kupang. Tahun lalu sudah ada dan sekarang menjadi yang kedua. Piala bergilir ini dibuat dari bahan daur ulang. Pesannya jelas, kita harus tetap menjaga lingkungan,” ujarnya.

Solidaritas untuk Korban Gempa Flores

Kejuaraan tinju itu juga dimanfaatkan untuk menggalang solidaritas bagi masyarakat Flores yang terdampak gempa bumi. Christian mengajak warga Kota Kupang ikut membantu saudara-saudara mereka yang sedang menghadapi bencana.

Ia menegaskan, masyarakat NTT merupakan satu keluarga sehingga penderitaan yang dialami masyarakat di Flores juga menjadi tanggung jawab bersama.

“Satu pulau terguncang dan terluka, satu NTT ikut merasakan. Saudara-saudara kita di Flores tidak sendiri. Katong ada bersama kalian,” katanya.

Penggalangan dana dilakukan melalui kotak donasi dan pembayaran digital menggunakan QRIS. Christian menyatakan dirinya akan mengawali donasi tersebut sebesar Rp5 juta.

Ia mengatakan, solidaritas tidak boleh berhenti pada ucapan. Masyarakat perlu hadir dan membantu sesuai kemampuan masing-masing.

“Bencana boleh mengguncang tanah tempat kita berpijak, merusak bangunan yang kita dirikan, dan mengubah kehidupan dalam hitungan detik. Tetapi satu hal yang tidak boleh runtuh adalah harapan kita bersama,” ujar Christian.

Pesan itu, menurut dia, sejalan dengan semangat olahraga tinju. Ketika seorang petinju jatuh, perjuangan belum berakhir selama ia masih memiliki kekuatan untuk bangkit. Begitu pula masyarakat yang menghadapi bencana dan kesulitan hidup.

“Jatuh bukan berarti selesai. Kita harus bangkit bersama,” katanya.

Christian pun meminta para petinju yang bertanding menjunjung tinggi sportivitas. Ia berharap pertandingan tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga memperkuat karakter dan semangat kebersamaan masyarakat Kota Kupang.(Rjb)