PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Keterbatasan fasilitas tidak menghalangi Program Studi Pendidikan Teknologi Industri (PTI) Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk melahirkan inovasi dan prestasi. Melalui pendekatan teknologi, desain, dan kewirausahaan, prodi yang tergolong baru ini berupaya menjadikan tenun ikat Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai produk industri kreatif yang mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.
Koordinator Prodi PTI Undana, Ariency Kale Ada Manu, S.T., M.T., mengatakan mahasiswa PTI telah membuktikan kemampuannya bersaing di luar kampus. Salah satu capaian terbaru adalah keberhasilan delegasi mahasiswa PTI meraih Juara II pada lomba fashion show yang diselenggarakan Bank Indonesia.
Menurut Ariency, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan kreativitas mahasiswa tetap dapat berjalan meski prodi masih menghadapi keterbatasan sarana. Karena itu, pihaknya terus mendorong dukungan universitas dan fakultas agar PTI semakin dikenal di tingkat nasional maupun global.
Ketua Panitia Pameran, Sariwati Nulima, menjelaskan kegiatan yang digelar bukan sekadar memenuhi tuntutan akademik mahasiswa. Pameran itu dirancang sebagai gerakan berkelanjutan untuk memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis budaya di kawasan Indonesia Timur.
Ia menyebutkan terdapat tiga pilar utama yang menjadi fokus pengembangan, yakni melestarikan motif tenun asli, mendigitalisasi pola dan sistem pemasaran, serta mempromosikan berbagai produk turunan tenun agar memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar modern.
Melalui pendekatan tersebut, tenun ikat yang selama ini kerap dipandang sebagai produk tradisional, mahal, dan hanya digunakan dalam acara adat, diubah menjadi produk fesyen kasual, aksesori modern, hingga komoditas industri kreatif yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda.
Pendekatan berbasis sains, desain digital, dan manajemen industri yang diterapkan di Prodi PTI Undana diharapkan mampu memperluas pasar wastra NTT sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.
Lebih dari itu, inisiatif ini dinilai menjadi langkah strategis dalam menyelamatkan puluhan ragam motif wastra NTT dari ancaman kepunahan sekaligus mencetak generasi muda berjiwa technopreneur yang mampu mengembangkan ekonomi lokal tanpa meninggalkan identitas budaya. Dengan sinergi antara pelestarian budaya dan inovasi teknologi, kampus diharapkan menjadi penggerak lahirnya industri kreatif berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan.(Rjb)