PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Bola voli Nusa Tenggara Timur tidak kekurangan pemain berbakat. Persoalannya, banyak talenta belum memiliki panggung yang cukup untuk menunjukkan kemampuan. Kondisi inilah yang hendak dijawab melalui Turnamen Bola Voli SMSI Cup 2026.
Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi NTT menggagas turnamen tersebut bukan semata untuk memperebutkan gelar juara dan hadiah. Ajang yang direncanakan berlangsung Oktober 2026 itu diarahkan menjadi ruang kompetisi sekaligus pencarian bibit unggul bola voli NTT menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Gagasan itu mengemuka dalam audiensi SMSI NTT dengan Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) NTT Winston Neil Rondo, Senin (31/8/2026).
Ketua SMSI NTT Beni Jahang mengatakan, audiensi dilakukan untuk memastikan rencana penyelenggaraan SMSI Cup berjalan sejalan dengan tata kelola dan pembinaan olahraga bola voli di NTT.
“Tujuan kami berdiskusi untuk mendapatkan arahan mengenai persyaratan, mekanisme, aspek teknis, dan koordinasi yang diperlukan agar turnamen ini dapat terlaksana dengan baik,” kata Beni.
Semula, SMSI Cup dirancang sebagai turnamen bagi pelajar SMA. Namun, gagasan itu berkembang menjadi turnamen terbuka agar ruang partisipasi sekaligus pencarian pemain berbakat dapat diperluas.
Menurut Beni, keterlibatan induk organisasi cabang olahraga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan turnamen.
“Bagaimanapun, kegiatan olahraga harus mendapat dukungan dan berada dalam koordinasi induk organisasi cabang olahraga,” ujarnya.
Turnamen tersebut sengaja ditempatkan pada Oktober, berdekatan dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda. Selain menghidupkan kompetisi olahraga, SMSI Cup diharapkan menghadirkan semangat baru bagi generasi muda NTT.
Bukan Sekadar Piala
Ketua PBVSI NTT Winston Neil Rondo menyambut positif gagasan tersebut. Bagi Winston, keterlibatan media dalam pengembangan olahraga memiliki arti lebih luas daripada sekadar memberitakan hasil pertandingan.
“Voli membutuhkan lapangan, tetapi juga membutuhkan panggung,” kata Winston.
Menurut dia, banyak pemain potensial tersebar di berbagai daerah NTT. Mereka memiliki kemampuan, tetapi belum tentu memperoleh kesempatan untuk tampil dan dikenal lebih luas.
“Banyak atlet hebat lahir di kampung-kampung, tetapi tidak dikenal karena tidak memiliki panggung publikasi. Media bisa menjadi panggung itu,” ujarnya.
Karena itu, Winston menilai kolaborasi SMSI dan PBVSI dapat memperkuat ekosistem bola voli NTT. Media tidak hanya berada di pinggir lapangan sebagai peliput, tetapi ikut membuka ruang bagi atlet, klub dan pelatih untuk mendapatkan perhatian publik.
Pandangan tersebut sekaligus mengubah orientasi turnamen. SMSI Cup diharapkan tidak berhenti pada daftar juara, tetapi mampu menghasilkan daftar talenta yang layak dipantau untuk pembinaan lebih lanjut.
Memburu Talenta untuk PON 2028
PBVSI NTT kini mulai menyiapkan pembinaan atlet menghadapi PON 2028. Dalam konteks itu, setiap turnamen dinilai dapat menjadi bagian dari proses pencarian pemain potensial.
“Setiap turnamen harus menjadi bagian dari jalan besar. Kita tidak berhenti pada juara dan hadiah, tetapi melihat siapa pemain muda yang menonjol, dari klub mana, bermain di posisi apa, dan bagaimana potensinya,” kata Winston.
Karena itu, SMSI Cup berpeluang menjadi salah satu ruang pemantauan talenta bola voli dari berbagai daerah.
Winston bahkan mendorong agar konsep turnamen dibuka seluas mungkin melalui format Open NTT. Dengan format itu, klub maupun pemain dari berbagai wilayah memiliki kesempatan tampil dan berkompetisi dalam satu arena.
“Kalau konsepnya Open NTT, semangatnya adalah memberikan ruang yang lebih luas bagi pemain-pemain daerah untuk tampil dan berkompetisi,” ujarnya.
Format tersebut tetap akan disesuaikan dengan kalender pertandingan lain, termasuk agenda kompetisi tingkat SMA/SMK yang juga direncanakan berlangsung pada Oktober.
PBVSI Siapkan Dukungan Teknis
Dukungan PBVSI NTT tidak berhenti pada persetujuan terhadap gagasan turnamen. Organisasi tersebut juga menyatakan kesiapan membantu dari sisi teknis.
Pendampingan dapat mencakup penyusunan sistem pertandingan, pengaturan jadwal, hingga pelibatan tenaga berpengalaman dalam penyelenggaraan kompetisi.
PBVSI NTT juga membuka peluang dukungan terhadap sejumlah perlengkapan pertandingan, antara lain bola, net, lampu, papan skor, dan kebutuhan teknis lainnya sesuai ketersediaan.
Winston mengatakan pengurus dan personel berpengalaman di lingkungan PBVSI NTT akan dilibatkan dalam persiapan SMSI Cup.
“Untuk keperluan teknis, pengaturan jadwal dan sistem pertandingan, teman-teman PBVSI akan memberikan dukungan,” katanya.
Sebagai dukungan tambahan, Winston juga menyatakan kesediaannya menyumbangkan piala untuk turnamen tersebut.
Tantangan Berikutnya: Lapangan
Setelah konsep mulai mengerucut, pekerjaan berikutnya adalah menentukan arena pertandingan.
SMSI dan PBVSI NTT akan mempertimbangkan sejumlah lokasi dengan memperhatikan kapasitas penonton, fasilitas, kelayakan pertandingan, jadwal penggunaan venue, serta keterjangkauan biaya.
Pilihan lapangan indoor maupun outdoor masih menjadi bahan pembahasan.
Bagi panitia, pemilihan venue menjadi penting karena jadwal fasilitas olahraga pada Oktober diperkirakan cukup padat.
“Yang penting kita punya waktu untuk menyiapkan semuanya dengan baik. Cari lapangan yang representatif, kemudian atur sistem pertandingan dan seluruh kebutuhan teknisnya,” kata Winston.
Media sebagai “Rumah” Voli NTT
Kerja sama kedua organisasi itu diharapkan tidak berakhir setelah pertandingan terakhir SMSI Cup selesai.
Winston melihat SMSI memiliki jaringan media yang dapat menjadi kekuatan untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan perkembangan bola voli dari berbagai penjuru NTT.
PBVSI, kata dia, memiliki atlet, klub, pelatih dan cerita pembinaan dari 22 kabupaten/kota. Sementara SMSI mempunyai jaringan media untuk membawa cerita tersebut ke ruang publik.
“Saya kira SMSI bisa menjadi rumah media bagi bola voli NTT,” ujarnya.
Kolaborasi itu dinilai penting karena perkembangan olahraga tidak hanya membutuhkan kompetisi, tetapi juga publikasi yang konsisten. Atlet yang tampil baik membutuhkan ruang untuk dikenal; klub membutuhkan perhatian publik; sementara masyarakat membutuhkan informasi mengenai perkembangan olahraga di daerahnya.
“Kalau dua kekuatan ini bertemu, voli akan semakin besar,” kata Winston.
SMSI Cup 2026 pun diarahkan menjadi lebih dari sekadar turnamen. Jika persiapan berjalan sesuai rencana, Oktober nanti akan menjadi titik temu antara kompetisi, pembinaan, publikasi dan pencarian talenta.
“Jangan kita jadikan Oktober nanti sekadar open turnamen. Mari kita jadikan sebagai pesta voli sekaligus panggung talenta NTT menuju PON 2028,” ujar Winston.
Setelah audiensi tersebut, SMSI NTT akan menindaklanjuti persiapan melalui penguatan kepanitiaan, pematangan format pertandingan, koordinasi teknis, serta penentuan lokasi.
Dari arena SMSI Cup, talenta-talenta yang selama ini tumbuh jauh dari sorotan diharapkan mendapatkan kesempatan untuk tampil. Sebab, menuju PON 2028, NTT tidak hanya membutuhkan pemain yang siap bertanding, tetapi juga sistem yang mampu menemukan mereka sejak dini.