PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menata kembali kekuatan olahraga Shorinji Kempo dengan memasang target tinggi di panggung internasional. Di bawah kepemimpinan Julie Soetrisno Laiskodat, Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) NTT membidik empat hingga enam medali emas dalam Kejuaraan Dunia 2027 di Nagoya, Jepang.
Target tersebut sekaligus menjadi bagian dari ambisi mengembalikan kejayaan Kempo NTT pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028. Untuk mewujudkannya, kepengurusan baru PERKEMI NTT menyiapkan pembenahan sistem pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih, hingga rencana mendatangkan tenaga kepelatihan dari Jepang.
Komitmen itu mengemuka dalam pelantikan Pengurus Provinsi PERKEMI NTT periode 2026–2030 yang dipimpin Ketua Umum Pengurus Besar PERKEMI, Laksamana Madya TNI (Purn.) Prof. Dr. Agus Setiadji, S.AP., M.A., di GOR Oepoi, Kota Kupang, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-48 PERKEMI NTT dan pelantikan Pasukan 100 PERKEMI NTT.
Julie menilai, untuk kembali menjadi kekuatan utama Kempo nasional, NTT membutuhkan pola pembinaan yang lebih serius dan terencana. Salah satu strategi yang disiapkan adalah membangun kerja sama dengan pelatih asal Jepang guna memperkuat kemampuan teknis, strategi pertandingan, serta mental bertanding para kenshi.
Menurut dia, persaingan menuju PON 2028 tidak ringan. Karena itu, peningkatan kualitas atlet harus dilakukan melalui latihan berkesinambungan, evaluasi berkala, dan dukungan organisasi yang solid.
Julie mengakui, mendatangkan pelatih dari Jepang membutuhkan anggaran besar. Namun, investasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing atlet sekaligus menjaga kehormatan daerah.
Ia menegaskan, prestasi olahraga bukan sekadar persoalan medali, melainkan juga menyangkut martabat dan kebanggaan masyarakat NTT.
23.900 Kenshi Menjadi Modal Besar
Peluang membangun kekuatan baru Kempo NTT ditopang basis anggota yang cukup besar. Saat ini, jumlah kenshi di NTT tercatat sekitar 23.900 orang. Dari jumlah tersebut, lebih dari 9.000 orang masih aktif mengikuti kegiatan dan pembinaan.
Anggota PERKEMI tersebar di berbagai kelompok usia dan jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi hingga kalangan pekerja.
Julie melihat potensi tersebut sebagai modal penting untuk menyiapkan regenerasi atlet. Pembinaan sejak usia dini diharapkan mampu melahirkan kenshi yang tidak hanya unggul secara teknik, tetapi juga memiliki disiplin, ketangguhan, integritas, dan semangat juang.
Ia mengingatkan bahwa Shorinji Kempo tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan. Nilai persaudaraan, pembentukan karakter, kerja keras, dan keteguhan iman juga menjadi bagian penting dari pendidikan bela diri tersebut.
Mengejar Kembali Prestasi Tujuh Emas
Ambisi PERKEMI NTT bukan tanpa landasan sejarah. Pada PON XIX 2016 di Jawa Barat, cabang olahraga Shorinji Kempo berhasil menyumbangkan tujuh medali emas, satu perak, dan lima perunggu bagi kontingen NTT.
Catatan prestasi itu kini menjadi tolok ukur bagi kepengurusan Julie untuk mengembalikan posisi NTT sebagai salah satu kekuatan utama Kempo Indonesia.
Sejumlah agenda besar telah menanti, mulai dari Pra-PON 2027, Kejuaraan Dunia 2027 di Nagoya, hingga PON XXII 2028.
NTT juga mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah cabang olahraga Shorinji Kempo dalam penyelenggaraan PON XXII 2028 yang direncanakan berlangsung di NTT, NTB, dan DKI Jakarta.
Kesempatan tersebut dinilai strategis karena NTT tidak hanya dituntut menyukseskan penyelenggaraan, tetapi juga harus mampu membuktikan kualitas atletnya di hadapan daerah lain.
Agus Setiadji: NTT Punya Posisi Strategis
Ketua Umum PB PERKEMI Agus Setiadji menilai NTT memiliki kontribusi besar dalam perkembangan Shorinji Kempo Indonesia.
Dari sekitar 219.000 kenshi di seluruh Indonesia, sebanyak 23.900 orang berasal dari NTT. Lebih dari 9.000 di antaranya merupakan anggota aktif, sementara pemegang sabuk hitam atau yudansha telah melampaui 200 orang.
Agus mengatakan, kekuatan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya NTT dalam peta pembinaan Kempo nasional.
Ia juga mengingatkan keberhasilan Indonesia pada Kejuaraan Dunia atau Taikai 2023 di Tokyo, Jepang. Saat itu, Indonesia menempati peringkat kedua dari 43 negara peserta dengan raihan empat emas, tiga perak, dan lima perunggu. Atlet asal NTT turut memberikan kontribusi besar dalam pencapaian tersebut.
Menghadapi kejuaraan dunia berikutnya pada Oktober 2027 di Nagoya, Agus berharap kenshi NTT dapat meningkatkan kontribusi bagi kontingen Indonesia.
Ia juga meminta pengurus daerah memanfaatkan kesempatan menjadi tuan rumah cabang Shorinji Kempo pada PON 2028 dengan mempersiapkan atlet sejak dini.
Membuka Jalan Menuju Panggung Olimpiade
Di luar target kejuaraan, PB PERKEMI juga memiliki agenda lebih besar, yakni memperluas pengakuan Shorinji Kempo dalam ekosistem olahraga internasional.
Agus mengungkapkan, World Shorinji Kempo Organization telah bergabung dengan organisasi olahraga bela diri yang diakui Komite Olimpiade Internasional (IOC). Perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya membuka peluang agar Shorinji Kempo dapat masuk dalam kompetisi olahraga yang lebih luas, termasuk SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.
PB PERKEMI juga mendorong kerja sama dengan Badan Anti-Doping Dunia (WADA) untuk memperkuat komitmen terhadap prinsip olahraga bersih.
Agus berharap kepengurusan PERKEMI NTT yang baru dapat memperkuat organisasi sekaligus menghasilkan atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Dengan basis hampir 24.000 kenshi, sejarah tujuh emas PON 2016, serta kepercayaan menjadi tuan rumah cabang Kempo pada PON 2028, NTT memiliki modal untuk kembali membangun kejayaan.
Kini, tantangan terbesar berada pada konsistensi pembinaan dan kemampuan menerjemahkan potensi besar tersebut menjadi prestasi nyata di arena pertandingan.(Rjb)