Koperasi Bangkit! Gubernur NTT Tegaskan Peran Sentral Koperasi dalam Ekonomi Rakyat

3,513

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.    Puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-78 tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung semarak di Kupang, Senin (28/7/2025). Dalam sambutannya, Gubernur NTT melalui perwakilan resminya menegaskan kembali peran penting koperasi sebagai tulang punggung ekonomi rakyat dan instrumen pemerataan kesejahteraan di daerah.

Dengan semangat persatuan yang kental, acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Koperasi Provinsi NTT, para pengurus Dekopin, perwakilan TNI-Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, perempuan, serta ribuan insan koperasi dari seluruh penjuru NTT. Dalam suasana yang penuh keakraban, peringatan ini sekaligus menjadi momentum strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi berbasis komunitas.

“Dari sekitar 5,7 juta penduduk NTT, 2,4 juta di antaranya adalah anggota koperasi. Artinya, hampir 50 persen masyarakat kita telah terlibat aktif dalam gerakan koperasi. Ini bukan sekadar angka, tapi potensi besar yang bisa menggerakkan ekonomi NTT dari desa hingga ke pasar global,” ungkap gubernur dalam sambutan yang dibacakan oleh pejabat yang mewakili.

Koperasi Merah Putih Jadi Andalan

Salah satu program strategis yang disorot adalah Koperasi Merah Putih, sebuah gerakan nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto melalui Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2025. Di NTT, sebanyak 3.442 koperasi telah berdiri di desa dan kelurahan, termasuk unit koperasi Merah Putih yang tersebar hingga ke pelosok, seperti di Desa Patuketi, Kabupaten Belu.

Gubernur menyatakan bahwa NTT siap menyukseskan program “Satu Desa Satu Produk” dan kini ditingkatkan menjadi One Community One Product, di mana setiap komunitas—baik sekolah, gereja, paguyuban, hingga kelompok hobi—didorong untuk memiliki produk unggulan lokal.

NTT Butuh Kemandirian Ekonomi

Gubernur juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi NTT dalam hal defisit perdagangan daerah. “Kita membeli barang dari luar NTT senilai Rp59 triliun, sementara menjual hanya Rp8 triliun. Artinya, kita defisit Rp51 triliun. Koperasi harus menjadi garda terdepan dalam menekan ketergantungan ini,” tegasnya.

Ia mendorong agar jaringan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret di NTT mulai menyediakan minimal 60 persen produk lokal. “Kita perlu markas untuk produk NTT. Roti, air mineral, makanan ringan, harus bisa bersaing dan hadir di rak-rak toko ritel nasional,” tambahnya.

Kapitalisme Koperasi untuk Semua

Dalam bagian akhir pidatonya, gubernur menegaskan bahwa ekonomi Indonesia harus kembali ke akar gotong royong. “Ekonomi kita bukan milik segelintir orang. Demokrasi ekonomi berarti dikelola oleh bersama-sama, untuk kesejahteraan bersama. Itu adalah ruh koperasi.”

Ia pun menginstruksikan agar seluruh pengurus dan pengawas koperasi di NTT meningkatkan kapasitas dan daya saing koperasi, khususnya yang bergerak di bidang produksi dan industri kreatif. “Koperasi jangan hanya simpan pinjam, tetapi juga harus bermain di sektor panen, pengolahan, dan pemasaran,” katanya.

Gubernur menutup sambutan dengan doa dan harapan besar: “Dirgahayu Koperasi Indonesia! Mari kita terus menjalin jejaring untuk membangun masyarakat, membangun ekonomi daerah, dan membawa koperasi menuju era kejayaan baru.”(rjb)