Dana Rp600 Juta, Ruang Kelas SD Inpres Sumlili Rusak: Dugaan Kelalaian Kontraktor dan Lemahnya Pengawasan Dinas

3,287

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.          Tiga ruang kelas baru di SD Inpres Sumlili, Kabupaten Kupang, yang dibangun dengan Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun 2023 senilai sekitar Rp600 juta, kini menuai sorotan. Proyek yang seharusnya meningkatkan kualitas pendidikan justru menimbulkan masalah. Hanya delapan bulan pasca pembangunan rampung, pintu-pintu kelas rusak, dinding retak, dan keselamatan siswa terancam.

Investigasi Kompas menemukan indikasi lemahnya pengawasan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang serta dugaan kelalaian kontraktor dalam menjalankan proyek.

Pintu Ambruk, Retakan di Dinding

Pembangunan tiga ruang kelas dimulai Juli 2023 dan selesai pada Desember 2023. Namun, beberapa bulan kemudian, kerusakan mulai tampak. Pintu-pintu ruang kelas roboh, bahkan ada yang hancur total. Dinding pun terlihat mengalami retak-retak besar.

 “Kami hanya diminta mengawasi, bukan mengurus proyek. Setelah bangunan selesai, tiba-tiba pintunya jatuh dan hancur. Kami sudah lapor ke dinas, tapi sampai sekarang belum ada tanggapan,” ujar Lili Ndun, Kepala Sekolah SD Inpres Sumlili, Jumat (22/8/2025).

 

Menurut Lili, kontraktor sempat berjanji akan memperbaiki kerusakan. Namun, janji itu tak pernah terealisasi. Pihak sekolah akhirnya menggunakan dana BOS untuk memperbaiki kerusakan kecil, sementara kerusakan besar dibiarkan karena keterbatasan anggaran.

Minimnya Pengawasan Dinas

Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang disebut memiliki peran besar dalam memastikan kualitas bangunan, tetapi pihak sekolah menilai pengawasan dinas sangat minim. Menurut Lili, pihak sekolah sama sekali tidak dilibatkan dalam proses teknis pembangunan.

“Kami tidak tahu soal kualitas material, gambar teknis, atau siapa kontraktornya. Semua diatur dinas. Kami hanya diminta menunjukkan lokasi pembangunan,” jelasnya.

 

Saat dikonfirmasi, pejabat Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan disebut pernah menyampaikan bahwa masa pemeliharaan bangunan hanya enam bulan. Artinya, kerusakan setelah masa itu menjadi tanggung jawab sekolah.

Namun, menurut komita sekolah , masa pakai pintu dan struktur ruang kelas seharusnya bisa bertahan minimal 5–10 tahun jika material dan pengerjaan sesuai standar.

Keselamatan Siswa Terancam

Lebih mengkhawatirkan, kerusakan ruang kelas berpotensi menimbulkan korban. Salah satu pintu ruang kelas jatuh saat anak-anak berada di sekitar lokasi. Untungnya, kejadian itu terjadi saat jam istirahat.

“Kalau kejadian itu pas anak-anak belajar, bisa berakibat fatal. Kami khawatir jika bangunan ini tidak segera diperbaiki,” tegas Lili.

Dugaan Masalah Proyek

Berdasarkan dokumen yang dihimpun Kompas, nilai proyek ini mencapai sekitar Rp600 juta dengan sumber anggaran dari DAU 2023. Namun, transparansi mengenai spesifikasi material, pemenang tender, dan proses pengawasan masih dipertanyakan.

Sejumlah pihak menilai perlu dilakukan audit investigatif oleh Inspektorat Kabupaten Kupang dan BPKP untuk memastikan tidak ada unsur penyimpangan anggaran.

Tuntutan Transparansi

Kasus SD Inpres Sumlili menambah daftar panjang dugaan buruknya kualitas proyek pembangunan ruang kelas di Kabupaten Kupang. Dengan nilai proyek ratusan juta rupiah, publik menuntut keterbukaan informasi mengenai:

Siapa kontraktor pelaksana proyek.

Standar kualitas material yang digunakan.

Hasil pemeriksaan dan rekomendasi teknis dari Dinas Pendidikan.

Alur pertanggungjawaban penggunaan dana.

Jika audit mengungkap adanya kelalaian kontraktor atau penyalahgunaan anggaran, publik mendesak penegakan hukum agar kasus serupa tidak terulang.