Petani Sayur Binaan CIRMA di Malaka Tertekan Harga Pasar dan Biaya Produksi

3,272

PATROLICIA COM PROPINSI NTT Kelompok Tani Sayur Setia Hati Klisuk, binaan LSM CIRMA, terus berupaya mempertahankan produksi di tengah anjloknya harga sayur lokal di Kabupaten Malaka. Dalam pemantauan Media Flores Peduli,Rabu (10/12/2025), para petani di Desa Rabasahain mengaku pendapatan mereka turun drastis meski bekerja sepanjang hari. “Harga sayur turun, sementara tenaga dan biaya yang kami keluarkan tidak berubah. Kami bekerja dari pagi sampai malam, tapi hasilnya tidak sebanding,” ujar ketua kelompok, Arberta Ista Sera.

Kondisi pasar sayur lokal menjadi salah satu hambatan utama. Masuknya pasokan sayur dari wilayah perbatasan dan daerah lain dengan harga lebih rendah membuat produk petani lokal tersisih. “Kami sudah meningkatkan kualitas, tetapi harga tetap turun. Kami bingung, karena sayur dari luar banyak masuk dan membuat harga kami ikut jatuh,” tutur seorang anggota kelompok. Situasi ini menempatkan petani kecil dalam posisi yang sulit, terutama ketika daya tawar mereka terbatas.

LSM CIRMA menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya tata niaga sayur lokal dan minimnya proteksi terhadap petani kecil. Pendamping CIRMA, Ibu Feni, menyatakan bahwa sistem pasar saat ini lebih menguntungkan pedagang pengumpul dibandingkan produsen. “Petani sudah bekerja keras, tetapi mereka tidak menikmati nilai tambah. Harga di tingkat petani jatuh, sementara biaya produksi terus naik. Pemerintah perlu hadir mengatur alur distribusi agar petani tidak terus dirugikan,” tegasnya.

Selain persoalan pasar, petani juga kesulitan memperoleh pupuk dan pestisida dengan harga yang terjangkau, sementara cuaca ekstrem memperburuk kondisi. Panas terik berkepanjangan disusul hujan tak menentu menyebabkan tanaman gagal tumbuh optimal. “Kadang hujan terus, kadang panas menyengat. Kami tidak bisa mengontrol cuaca, tapi harus menanggung akibatnya,” ujar sekretaris kelompok, Feryana Anita Nahak.

 

Untuk memastikan produksi tetap berjalan, kelompok tani ini meminta dukungan berupa mesin sedot air, pipa, selang, pupuk, dan pestisida. CIRMA berharap pemerintah daerah merespons kebutuhan tersebut dan menguatkan ekosistem pasar sayur lokal agar petani tidak terus terjebak dalam kerugian. “Petani hanya ingin harga yang adil dan dukungan sarana produksi. Jika petani tidak diselamatkan, ketahanan pangan kita ikut terancam,” kata CIRMA menutup pembicaraan.(Rjb)