Melawan Kekeringan, Menjemput Harapan: Perjuangan Petani Setia Hati Klisuk Mengubah Lahan Gersang Menjadi Sumber Hidup

3,268

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.          Dari pelosok Desa Rabasahain, Kecamatan Malaka Barat, sebuah gerakan kecil namun penuh harapan lahir melalui kelompok tani Setia Hati Klisuk. Kelompok ini dibentuk sebagai upaya warga menghidupkan kembali tanah kering yang selama bertahun-tahun tidak tersentuh air. Dengan pendampingan

LSM CIRMA, para petani mulai berani membayangkan perubahan, sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pikir mungkin terjadi. “Awalnya kami bingung, air tidak ada, lalu bagaimana kami bisa tanam sayur?” ujar Arberta Ista Sera, ketua kelompok.

Keraguan itu perlahan terjawab ketika pendamping CIRMA, Femi, mulai mendorong warga untuk mencoba menanam meski kondisi terbatas. Ia tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga melobi pemerintah hingga kelompok memperoleh pompa air berukuran empat inci. Namun, pompa itu sempat rusak sehingga kegiatan pertanian kembali terhenti. Femi tidak menyerah. Ia menghubungi jejaringnya hingga bantuan datang, pompa diperbaiki, dan air kembali mengalir.

Sumber air utama terletak pada sebuah sumur bertenaga surya yang terbengkalai tak jauh dari lokasi. Ketika dicek, air masih melimpah, tetapi sistem tenaga surya sudah tidak berfungsi. Sumur itu akhirnya dialihkan ke mesin pompa yang dimiliki kelompok, meski mereka kerap terbentur biaya solar dan keterbatasan selang. Femi kemudian berinisiatif meminta pipa PE yang menganggur di desa, dan permintaan itu dikabulkan. Langkah berikutnya adalah menghadirkan bak penampung air, yang juga berhasil ia peroleh setelah proses panjang.

 

Meski peralatan belum sepenuhnya memadai, para petani terus bekerja dengan cara manual. Mereka menimba, mengangkut, dan menyiram tanaman sendiri. Namun kerja keras itu mulai menunjukkan hasil. Beberapa lahan yang dulunya gersang kini mulai menghijau dengan sayuran dan kacang panjang. “Belum banyak, tapi kami bersyukur. Kami akhirnya melihat hasil dari kerja kami sendiri,” kata Arberta.

Bendahara kelompok, Bonifasius Bria, mengaku perjuangan mereka masih panjang. Kekurangan air, mahalnya solar, dan minimnya pupuk menjadi kendala utama. Ia berharap pendampingan dari CIRMA terus berlangsung dan pemerintah bersedia bermitra agar lebih banyak lahan kering di Malaka dapat berubah menjadi lahan produktif. “Kami berterima kasih kepada Ibu Femi. Ia masih muda, tapi perjuangannya luar biasa. Kami juga berharap Media Flores Peduli terus memantau dan mempublikasikan perkembangan kami,” ujarnya.

Namun harapan itu kini menghadapi tantangan baru. Harga sayur di pasar lokal anjlok sehingga pendapatan petani tidak sebanding dengan tenaga yang mereka keluarkan. Petani mengaku telah meningkatkan kualitas hasil panen, namun harga tetap rendah. Di sisi lain, biaya pupuk dan pestisida terus meningkat sehingga sulit untuk mempertahankan produktivitas. “Kami sudah kerja dari pagi sampai malam, tapi harga sayur tidak mendukung. Kami tidak tahu apa salahnya,” keluh para anggota.

Di tengah kondisi cuaca yang semakin ekstrem—kadang hujan berkepanjangan, kadang panas terik—kelompok tani Setia Hati Klisuk berharap dukungan pemerintah dan lembaga sosial tetap mengalir. Mereka memerlukan mesin sedot air tambahan, pipa, selang, pupuk, dan pestisida agar dapat terus mengembangkan usaha tani mereka. Dari tanah kering di Malaka Barat, suara para petani kecil ini kembali mengingatkan bahwa ketahanan pangan dimulai dari dukungan nyata kepada mereka yang bekerja paling dekat dengan tanah.(Rjb)