Mampukah Indonesia Tembus 6 Persen? Ujian Keluar dari “Perangkap” Pertumbuhan 5 Persen

3,701

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.      Jakarta Selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stagnan di kisaran 5 persen. Sejak 2014 hingga 2025, laju produk domestik bruto (PDB) bergerak di rentang 5,0–5,3 persen, bahkan setelah melewati tekanan pandemi Covid-19.
Data yang dirilis berbagai lembaga menunjukkan, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,31 persen pada 2022, melambat menjadi 5,05 persen pada 2023, dan berada di level 5,03 persen pada 2024. Pada 2025, ekonomi tumbuh 5,11 persen. Pola ini kerap disebut sebagai “5 percent growth trap” atau perangkap pertumbuhan 5 persen.
Memasuki 2026, pemerintah menargetkan akselerasi. Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9–5,7 persen secara tahunan (year on year). Bahkan, untuk kuartal I-2026, pertumbuhan diproyeksikan bisa mencapai 5,5–6 persen, ditopang konsumsi domestik, investasi, serta percepatan belanja negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 dapat menembus 6 persen. Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, ia menyebut belanja negara pada triwulan pertama tahun ini ditargetkan mencapai Rp 809 triliun.
“Belanja negara di kuartal I-2026 akan mencapai Rp 809 triliun. Kami mendorong investasi, konsumsi, serta berbagai paket stimulus agar momentum pertumbuhan terjaga,” ujarnya.
Sepanjang 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4 persen sesuai asumsi APBN, dengan potensi mendekati 6 persen apabila momentum konsumsi dan investasi terjaga.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan pertumbuhan 2026 berada pada rentang 5,4–5,6 persen. Target tersebut dinilai realistis dengan mempertimbangkan kondisi domestik yang relatif stabil dan inflasi yang terjaga.
Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang
Secara struktural, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan, dengan kontribusi sekitar 53 persen terhadap PDB. Stabilitas inflasi dan berbagai insentif fiskal diharapkan menjaga daya beli masyarakat.
Komponen investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang menyumbang sekitar 29 persen PDB juga diproyeksikan meningkat, terutama didorong hilirisasi sumber daya alam dan proyek strategis nasional.
Dari sisi moneter, pertumbuhan uang primer (M0) dan uang beredar luas (M2) pada akhir 2025 menunjukkan ekspansi likuiditas yang cukup kuat, sejalan dengan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Pandangan Ekonom: Akselerasi Moderat
Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan 2026 akan lebih baik dibanding 2025, tetapi belum tentu menembus 6 persen.
Tim ekonom Bank Central Asia (BCA), misalnya, memperkirakan pertumbuhan 2026 berada di kisaran 5,1 persen. Permata Bank memproyeksikan 5,1–5,2 persen, sedangkan CORE Indonesia melihat potensi pertumbuhan 4,9–5,1 persen.
Menurut para ekonom, stimulus fiskal dan peluang pelonggaran suku bunga dapat mendorong konsumsi dan investasi. Namun, persoalan struktural seperti pertumbuhan pendapatan riil masyarakat dan kualitas lapangan kerja masih menjadi tantangan.
Ujian Pemerintahan Baru
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6–8 persen dalam jangka menengah. Agenda hilirisasi, ketahanan pangan dan energi, serta penguatan industri domestik menjadi bagian dari strategi mempercepat laju ekonomi.
Tantangannya tidak ringan. Risiko global, ketidakpastian geopolitik, dan dinamika perdagangan internasional masih membayangi. Namun, bila pertumbuhan kuartal I-2026 benar-benar menyentuh 6 persen, Indonesia berpeluang keluar dari pola stagnasi 5 persen yang berlangsung lebih dari satu dekade.
Apakah 2026 menjadi titik balik? Jawabannya akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan, efektivitas belanja negara, dan keberhasilan mendorong daya beli masyarakat secara berkelanjutan.