Pentas Seni SEKAMI di Kupang: Merawat Iman dan Karakter Anak di Tengah Arus Digital

3,738

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.        Pentas seni yang digelar Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) Keuskupan Agung Kupang di Aula Gereja Paroki Sta. Maria Assumpta, Kota Kupang, Rabu (19/3/2026), menjadi ruang ekspresi iman sekaligus pembentukan karakter generasi muda di Nusa Tenggara Timur (NTT).


Mengusung tema “Jejak Sang Petualang di Bumi Flobamorata”, kegiatan ini menampilkan ragam tarian dan drama musikal dari berbagai daerah di NTT. Pementasan tersebut merepresentasikan kekayaan budaya lokal yang melekat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, dalam sambutannya menilai pentas seni tersebut sebagai bentuk nyata pembinaan iman yang terintegrasi dengan pembangunan karakter anak.
“Di tengah derasnya arus digitalisasi, kegiatan seperti ini menjadi oase yang menumbuhkan karakter anak. Pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut pembangunan mental dan karakter generasi muda,” ujarnya.
Menurut Melki, proses di balik sebuah pementasan memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar pertunjukan. Setiap latihan, penghafalan dialog, hingga perbaikan kesalahan menjadi bagian dari perjalanan pembelajaran yang membentuk kepribadian anak.
Ia menambahkan, melalui kegiatan seni, anak-anak belajar bekerja sama, membangun solidaritas, serta memahami peran dalam kebersamaan. “Mereka belajar kapan memimpin, kapan mengikuti, dan bagaimana saling menguatkan. Nilai-nilai ini tidak cukup diajarkan, tetapi harus dialami secara langsung,” katanya.
Selain itu, pentas seni juga menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenal dan mencintai budaya sendiri. Kebanggaan terhadap identitas sebagai generasi berbudaya, menurut dia, tumbuh melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan semacam ini.
Melki juga menyoroti pentingnya ruang interaksi nyata di tengah dominasi teknologi digital. Ia menyebut, keterlibatan anak-anak dalam latihan seni turut mengalihkan perhatian dari penggunaan gawai, sekaligus memperkuat interaksi sosial secara langsung.
“Di tengah kemajuan teknologi yang kerap menjauhkan interaksi, kegiatan ini menjadi jeda yang berharga. Anak-anak kembali pada kebersamaan, tawa, dan perjumpaan nyata,” ujarnya.
Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, menyatakan bahwa pentas seni tersebut mencerminkan wajah Gereja yang hidup dan dinamis. Melalui karya seni, anak-anak tidak hanya menampilkan bakat, tetapi juga menyampaikan nilai kasih secara kreatif dan menyentuh.
“Ini adalah wujud Gereja yang penuh semangat misioner. Anak-anak menunjukkan iman mereka dengan cara yang khas, penuh keceriaan,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai budaya yang diangkat dalam pentas seni dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari pewartaan iman yang berkelanjutan. Anak-anak juga didorong untuk menjadi pribadi yang kreatif, berani, dan setia dalam iman.
Sementara itu, Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agung Kupang, Romo Giovani Aditya L. Arum, Pr, menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang penting bagi anak-anak dan remaja untuk mengekspresikan diri di tengah keterbatasan ruang akibat perkembangan teknologi.
“Di era digital, anak-anak sering kehilangan ruang kebersamaan. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mereka untuk berekspresi sekaligus membangun relasi sosial melalui seni,” ujarnya.
Ia menambahkan, modernisasi berpotensi menjauhkan generasi muda dari akar budaya. Karena itu, kegiatan seperti pentas seni menjadi momentum penting untuk meneguhkan identitas budaya sekaligus mendukung pendidikan karakter.
Menurut dia, kegiatan tersebut sejalan dengan hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 dan Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Kupang, yang menekankan pentingnya pendidikan karakter bagi anak dan remaja. Selain itu, inisiatif ini juga mendukung program Pemerintah Provinsi NTT dalam upaya perlindungan dan pemberdayaan generasi muda.
Pentas seni SEKAMI pun tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga ruang perjumpaan lintas latar belakang. Anak-anak dari berbagai keluarga dan paroki bersatu dalam semangat kebersamaan, tanpa sekat sosial, menghadirkan harmoni dalam keberagaman.(Rjb)