Bank NTT Siapkan Penyaluran KUR, Charlie Paulus: “Kami Tidak Mau Ulangi Pengalaman Pahit Kredit Macet”

3,776

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Direktur Utama Charlie Paulus menegaskan Bank NTT tetap mengedepankan keberpihakan kepada masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan pelaku usaha kecil. Karena itu, bank pembangunan daerah tersebut memilih tidak buru-buru menaikkan margin kredit demi menjaga daya tahan nasabah.

“Orang lagi susah semua. Kalau keuntungan kita sedikit berkurang tidak apa-apa, yang penting masyarakat jangan semakin berat,” ujar Charlie dalam wawancara dengan media.

Menurut dia, hingga kini Bank NTT belum melihat dampak signifikan terhadap kinerja penyaluran kredit maupun kondisi likuiditas. Bahkan, bank tetap membagikan dividen sekitar Rp151 miliar kepada para pemegang saham sesuai porsi kepemilikan saham masing-masing.

Charlie mengakui capaian laba perseroan memang sempat berada di bawah target. Namun, kondisi itu dinilai masih aman karena Bank NTT memiliki cadangan modal yang cukup kuat.

“Kita masih punya cadangan modal sekitar Rp449 miliar. Sebagian bisa dipakai untuk menjaga kondisi keuangan bank,” katanya.

Di sisi lain, Bank NTT kini bersiap kembali menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) setelah sempat terhenti sejak 2019. Charlie mengatakan seluruh persiapan administrasi dan sistem telah rampung, tinggal menunggu koneksi akhir dengan Kementerian Keuangan.

“Kami mulai lagi dari Bali, sistem sudah disiapkan semua. Mudah-mudahan akhir bulan ini sudah bisa jalan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, fokus utama penyaluran KUR akan diarahkan kepada sektor produktif seperti pertanian, peternakan, produksi telur, hingga usaha kecil masyarakat lainnya. Bank NTT, kata dia, tidak ingin kredit dipakai untuk kebutuhan konsumtif.

“Pokoknya harus usaha produktif. Jangan dipakai untuk konsumsi,” tegasnya.

Charlie juga mengingatkan pengalaman buruk kredit macet di masa lalu menjadi pelajaran penting bagi Bank NTT dalam memperketat sistem penyaluran kredit. Karena itu, bank kini lebih berhati-hati dalam melakukan analisis kelayakan debitur.

“Kami tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Dulu sempat dihentikan karena kredit macet terlalu banyak. Sekarang sistemnya diperbaiki supaya lebih sehat,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan Bank NTT tidak akan serta-merta menolak masyarakat yang pernah memiliki catatan kredit buruk. Menurut dia, kondisi usaha debitur tetap harus dilihat secara menyeluruh.

“Bisa saja dulu usahanya bermasalah, tetapi sekarang sudah membaik. Itu tetap jadi pertimbangan kami. Jadi kami tidak kaku,” ujar Charlie.(Rjb)