Puting Beliung Terjang Manutapen, Rumah Warga Runtuh, Mitigasi Bencana Kota Kupang Dipertanyakan

3,729

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.      Angin  puting beliung yang disertai hujan deras kembali menguji kesiapsiagaan Kota Kupang menghadapi bencana hidrometeorologi. Di Kelurahan Manutapen, Kecamatan Alak, sedikitnya 14 rumah warga di RT 13 dan RT 14, RW 04 dan RW 05, rusak berat diterjang angin kencang, Minggu (18/1/2026). Atap rumah beterbangan, dinding roboh, dan puluhan warga terpaksa menyelamatkan diri tanpa perlindungan memadai.


Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana cuaca ekstrem di Kota Kupang dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik dampak kerusakan fisik, bencana ini kembali menyingkap persoalan mendasar: lemahnya mitigasi bencana dan belum optimalnya perlindungan pemerintah terhadap kawasan permukiman rentan.
Sebagian besar rumah yang rusak berada di wilayah dengan struktur bangunan sederhana dan minim penguatan konstruksi. Hingga kini, warga mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi sistematis terkait kesiapsiagaan bencana angin kencang maupun jalur evakuasi darurat. Padahal, berdasarkan catatan kebencanaan daerah, Kota Kupang termasuk wilayah rawan bencana hidrometeorologi, terutama pada puncak musim hujan.
Di tengah situasi darurat itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur turun langsung ke lokasi terdampak. Kehadiran partai politik tersebut disertai penyaluran bantuan darurat bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Ketua DPD PDI Perjuangan NTT Yunus Takandewa menyampaikan empati sekaligus penegasan sikap partai terhadap penderitaan warga. Ia menyebut bencana ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi seluruh pemangku kebijakan.
“Luka rakyat adalah luka kita bersama. Namun lebih dari itu, peristiwa ini harus menjadi alarm agar mitigasi bencana tidak terus diabaikan,” ujar Yunus saat meninjau lokasi.
Yunus menilai kehadiran negara tidak boleh berhenti pada tahap tanggap darurat. Pemerintah daerah, menurut dia, perlu memastikan langkah pencegahan, pemetaan wilayah rawan, serta penguatan bangunan warga menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang.
“Bencana bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga soal kesiapan. Negara harus hadir sebelum dan sesudah bencana, bukan hanya ketika rumah sudah runtuh,” katanya.
Bantuan darurat disalurkan melalui kerja sama DPD PDI Perjuangan NTT dan DPC PDI Perjuangan Kota Kupang, didukung Anggota DPR RI Stevano Risky Adranacus. Sejumlah unsur partai dan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) turut menyerahkan bantuan sembako kepada warga.
Sementara itu, warga berharap pemerintah kota segera turun tangan secara lebih konkret. Ketua RT 13 Yohana Naitboho mengatakan sebagian warga kini tinggal sementara di rumah kerabat karena rumah mereka tidak lagi layak huni.
“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah, bukan hanya bantuan sesaat. Rumah kami rusak berat dan kami tidak tahu sampai kapan bisa kembali,” ujarnya.
Ketua RW 05 Dian Rihi menambahkan bahwa bencana ini memperlihatkan ketimpangan perlindungan bagi warga di kawasan permukiman padat.
“Setiap musim hujan kami selalu khawatir. Tapi sampai sekarang belum ada program nyata untuk memperkuat rumah warga atau perlindungan lingkungan,” katanya.
Sebagai langkah lanjutan, DPD PDI Perjuangan NTT membuka Posko Bencana di Sekretariat DPD sebagai pusat koordinasi bantuan. Namun, langkah ini sekaligus menegaskan kekosongan peran negara di tingkat awal bencana, ketika warga membutuhkan respons cepat dan terorganisasi.
Bencana di Manutapen menjadi pengingat keras bahwa perubahan iklim telah meningkatkan intensitas cuaca ekstrem. Tanpa kebijakan mitigasi yang terencana, terpadu, dan berpihak pada warga rentan, bencana serupa berpotensi terus berulang—dengan korban yang semakin besar.(Team)