PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggandeng sejumlah wartawan dalam kegiatan studi banding ke industri pengolahan cokelat di Bali. Kunjungan ini difokuskan pada praktik budidaya dan pengolahan kakao di pabrik PT Cau Coklat Internasional yang berlokasi di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala OJK Provinsi NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata. Ia menegaskan pentingnya peran media dalam menyebarluaskan pengetahuan ekonomi produktif kepada masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap media dapat menyuarakan potensi ekonomi berbasis kakao kepada masyarakat NTT. Ini bukan sekadar kunjungan, tetapi upaya membuka wawasan baru tentang bagaimana komoditas lokal dapat dikelola secara modern dan berkelanjutan,” ujar Yan Jimmy.
Dalam kunjungan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan langsung mengenai proses budidaya kakao yang baik, mulai dari pemilihan bibit, pengelolaan tanah, hingga teknik panen dan pascapanen. Salah satu poin penting yang ditekankan adalah pentingnya menjaga kesuburan tanah dengan pH netral, penggunaan pupuk organik, serta penyesuaian metode tanam berdasarkan kondisi geografis seperti ketinggian dan tekstur tanah.
Selain itu, pengelola pabrik juga menjelaskan pentingnya sistem pertanian berkelanjutan. Tanaman kakao, misalnya, memerlukan naungan yang tepat dengan intensitas sinar matahari sekitar 20 persen. Pohon pelindung seperti pisang dinilai efektif karena mampu menjaga kelembapan tanah sekaligus mendukung ekosistem kebun.
Peserta juga diperkenalkan pada teknik fermentasi biji kakao yang menjadi kunci dalam menghasilkan kualitas cokelat premium. Proses ini tidak hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga membuka peluang ekspor ke pasar internasional.
Lebih jauh, praktik diversifikasi produk menjadi perhatian utama. Kakao tidak hanya dijual dalam bentuk biji mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti cokelat batang, bubuk kakao, hingga produk turunan lainnya. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat daya saing industri lokal.
Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya kemitraan antara petani dan industri. Selama ini, tantangan utama yang dihadapi adalah pola jual beli biji kakao tanpa pengolahan lanjutan, yang membuat nilai ekonomi tidak maksimal. Dengan pendekatan modern dan kolaboratif, rantai produksi diharapkan dapat diperpendek sehingga manfaat ekonomi lebih banyak dinikmati di daerah.
OJK menilai, potensi kakao di NTT sangat besar, namun belum dikelola secara optimal. Karena itu, hasil studi banding ini diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mengembangkan sektor kakao secara lebih terarah.
“Kita ingin mendorong transformasi ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan. Kakao adalah salah satu peluang besar bagi NTT jika dikelola dengan baik,” kata Yan Jimmy.
Melalui sinergi antara regulator, media, dan pelaku usaha, OJK berharap pengetahuan yang diperoleh dari Bali dapat diadaptasi di NTT, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat struktur ekonomi daerah.