PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Keterbatasan anggaran riset nasional tidak lagi harus menjadi alasan bagi perguruan tinggi untuk tertinggal dalam persaingan ilmu pengetahuan global. Universitas Nusa Cendana (Undana) kini membuka peluang lebih besar bagi dosen dan penelitinya untuk mengakses pendanaan internasional melalui program Horizon Europe, skema riset terbesar yang didanai Uni Eropa.

Peluang tersebut diperkenalkan melalui sosialisasi program Euraxess yang memberikan gambaran mengenai berbagai skema pendanaan riset kolaboratif lintas negara. Program ini menjadi salah satu pintu masuk bagi perguruan tinggi Indonesia untuk terlibat dalam jaringan penelitian internasional yang selama ini didominasi universitas dan lembaga riset dari negara-negara maju.
Dalam pemaparannya, perwakilan Euraxess Indonesia, Tatas, menjelaskan bahwa Horizon Europe menawarkan berbagai skema pendanaan dengan nilai yang sangat kompetitif. Salah satu klaster yang menjadi perhatian adalah Global Challenges, yang mencakup isu kesehatan, transformasi digital, ketahanan pangan, hingga lingkungan hidup.
Tahun 2026, Uni Eropa bahkan membuka pendanaan hingga 6,5 juta euro atau setara lebih dari Rp120 miliar untuk satu proyek penelitian yang berfokus pada mitigasi penurunan populasi serangga global. Besarnya dukungan dana tersebut menunjukkan semakin tingginya perhatian dunia terhadap isu keberlanjutan dan krisis lingkungan.
Namun, memperoleh hibah tersebut bukan perkara mudah. Persaingan berlangsung ketat dan melibatkan perguruan tinggi serta lembaga penelitian terbaik dari berbagai negara. Karena itu, Tatas menekankan pentingnya membangun konsorsium internasional yang kuat.
Setiap proposal, kata dia, harus melibatkan sedikitnya tiga institusi dari tiga negara Eropa yang berbeda. Selain itu, keterlibatan sektor industri atau mitra non-akademik menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing proposal karena hasil riset diharapkan memiliki dampak nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
“Perguruan tinggi Indonesia harus mulai aktif membangun jejaring internasional dan memastikan seluruh persyaratan administratif telah dipenuhi sejak awal,” ujarnya.
Salah satu syarat mendasar adalah kepemilikan Participant Identification Code (PIC) yang telah tervalidasi pada portal resmi Uni Eropa. Tanpa registrasi tersebut, institusi tidak dapat terlibat dalam proses pengajuan proposal maupun kerja sama riset lintas negara.
Bagi Undana, keterlibatan dalam ekosistem Horizon Europe memiliki arti strategis. Selain membuka akses terhadap sumber pendanaan yang jauh lebih besar, program ini menjadi sarana memperluas jejaring akademik internasional, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta memperkuat reputasi kampus di tingkat global.
Di tengah tuntutan peningkatan daya saing perguruan tinggi Indonesia, akses terhadap hibah internasional dipandang sebagai langkah penting untuk mempercepat transformasi riset dari skala lokal menuju panggung dunia. Penelitian yang selama ini terbatas oleh dukungan anggaran domestik berpeluang berkembang menjadi inovasi yang memberi dampak lebih luas bagi masyarakat.
Melalui partisipasi aktif dosen dan tenaga kependidikan dalam program Euraxess dan Horizon Europe, Undana tidak hanya mengejar pendanaan, tetapi juga berupaya membangun budaya riset yang lebih kolaboratif, kompetitif, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan global.
Seluruh informasi mengenai pendaftaran institusi, kepemilikan PIC, serta berbagai peluang pendanaan dapat diakses melalui EU Funding & Tenders Portal yang disediakan Uni Eropa.(Rjb)