Lautan Budaya di Jantung Kupang, 69 Kontingen Meriahkan Pawai Kemerdekaan NTT

3,785

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT  Ribuan warga memadati ruas Jalan El Tari, Kota Kupang, Kamis (13/8/2026), untuk menyaksikan Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya yang digelar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka memperingati HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebanyak 69 kontingen dari berbagai unsur masyarakat tampil memamerkan keberagaman budaya, kreativitas, serta capaian pembangunan daerah.


Kegiatan yang menjadi salah satu agenda tahunan paling dinanti masyarakat itu secara resmi dilepas Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dari depan Rumah Jabatan Gubernur NTT. Deretan peserta yang terdiri atas organisasi perangkat daerah, pelajar, mahasiswa, paguyuban etnis, komunitas, instansi vertikal, TNI, Polri, Kejaksaan, perbankan, BUMN, hingga kelompok masyarakat berjalan beriringan menampilkan identitas dan kekhasan masing-masing.

Menurut Gubernur Melki, pawai pembangunan dan karnaval budaya bukan sekadar seremoni perayaan kemerdekaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama untuk menunjukkan wajah NTT yang kaya akan budaya, sekaligus mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman.

“Pawai ini selalu dinantikan masyarakat karena menampilkan kekuatan NTT dalam berbagai bidang, mulai dari budaya, adat istiadat, kreativitas masyarakat hingga hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai,” ujar Melki.

Ia menilai antusiasme peserta menunjukkan tingginya semangat masyarakat dalam menjaga warisan budaya sekaligus mengisi kemerdekaan dengan karya dan inovasi. Karena itu, momentum peringatan kemerdekaan perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi pembangunan di seluruh wilayah NTT.

Dalam kesempatan tersebut, Melki juga mendorong pengembangan produk unggulan daerah melalui pendekatan One Village One Product (OVOP), One City One Product (OCOP), dan One School One Product (OSOP). Program tersebut diharapkan mampu melahirkan produk-produk khas yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing tinggi.

“NTT memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan menjadi produk unggulan. Kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci agar potensi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Selain itu, Gubernur kembali mengajak masyarakat mendukung program jam belajar masyarakat pada pukul 18.00 hingga 19.30 Wita. Program tersebut diharapkan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak untuk belajar dan memperkuat peran keluarga dalam pendidikan.

Ketua Panitia yang juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT, Beni Nahak, mengatakan pawai pembangunan dan karnaval budaya memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar menampilkan kemeriahan busana adat dan atraksi budaya.

Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi refleksi perjalanan masyarakat NTT yang dibangun di atas keberagaman suku, etnis, budaya, dan agama. Seluruh peserta membawa pesan tentang pentingnya menjaga persatuan sembari mendorong pembangunan yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan.

“Pawai ini merupakan perjalanan simbolik dari keberagaman menuju persatuan, dari identitas menuju kebersamaan, dan dari kebersamaan menuju kemajuan,” ujar Beni.

Ia menambahkan, tingginya antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang rute pawai menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari ruang ekspresi budaya masyarakat NTT. Di sisi lain, kegiatan itu juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pelaku usaha lokal.

Berbagai sektor usaha seperti penyewaan pakaian adat, jasa tata rias, dekorasi, transportasi, fotografi, kerajinan tangan, hingga kuliner ikut merasakan manfaat dari penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Melalui pawai pembangunan dan karnaval budaya, Pemerintah Provinsi NTT berupaya memperkuat rasa persaudaraan antarwarga, mempromosikan kekayaan budaya daerah, sekaligus menumbuhkan optimisme bahwa keberagaman merupakan modal utama dalam mewujudkan kemajuan NTT di masa depan.

Di tengah semarak peringatan kemerdekaan, pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga persatuan serta merawat identitas budaya yang menjadi kekuatan utama Nusa Tenggara Timur.(Rjb)