Dari Kupang, Suara Prevy Tembus Tiga Besar Nasional

3,773

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT      Suara seorang siswi sekolah menengah kejuruan dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, bergema di panggung nasional. Prevy Seltriani Taek, siswi SMK Negeri 4 Kupang, meraih Juara 3 Lomba Pidato AHY Muda 2026 setelah bersaing dengan 1.317 peserta dari 31 provinsi.

Penghargaan itu diumumkan dalam acara puncak Apresiasi Juara Nasional Lomba AHY Muda 2026 di Auditorium AHY, Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Sabtu (19/9/2026).

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat yang juga Ketua Tim Juri Nasional, Herman Khaeron, mengumumkan tiga peserta yang meraih penghargaan. Juara pertama diraih Alvino Radzaky Janersa dari Riau, juara kedua Grelhia Lovelly Bau Bau dari Maluku Utara, sedangkan Prevy Seltriani Taek dari NTT menempati posisi ketiga.

Bagi Prevy, panggung tersebut bukan sekadar tempat berkompetisi. Ia membawa gagasan mengenai masa depan anak muda di daerah, khususnya bagaimana kekayaan potensi NTT dapat diubah menjadi kesempatan ekonomi dan kesejahteraan.

Mengubah Potensi Menjadi Kesempatan

Dalam pidato bertema “Dari Potensi Menjadi Kesejahteraan”, Prevy menyoroti kondisi NTT yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya, tetapi masih menghadapi tantangan dalam menciptakan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi bagi generasi muda.

Ia mengangkat sejumlah potensi daerah, seperti kopi, jambu mete, rumput laut, peternakan, dan tenun.

Menurut Prevy, potensi tersebut tidak cukup hanya diproduksi dan dijual dalam bentuk bahan mentah. Anak muda perlu dibekali keterampilan untuk mengolah, mengemas, membangun merek, hingga memperluas pemasaran.

Kami kaya potensi. Tetapi belum cukup kaya kesempatan!” kata Prevy dalam pidatonya.

Ia memberi contoh komoditas kopi. Menurut dia, anak muda NTT tidak semestinya hanya menjadi penjual biji kopi. Mereka juga perlu memiliki kemampuan mengolah produk, membuat kemasan, membangun merek, dan memasarkannya ke berbagai daerah.

Gagasan tersebut menjadi cara Prevy menerjemahkan konsep hilirisasi ke dalam persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Produk lokal, jika diolah dengan keterampilan dan didukung akses pasar, dapat menghasilkan nilai tambah sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

Tiga Harapan Anak Muda NTT

Di hadapan para peserta dan tamu undangan, Prevy menyampaikan tiga hal yang menurutnya penting untuk masa depan generasi muda NTT, yakni penguatan keterampilan, investasi yang mampu membuka lapangan pekerjaan, serta akses pasar bagi produk lokal.

Ia juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang berjalan beriringan dengan penciptaan kesempatan ekonomi.

Jangan hanya bangun jalan agar anak muda NTT lebih mudah pergi. Bangun juga kesempatan agar kami punya alasan untuk tinggal, berkarya, dan membangun daerah sendiri!” ujarnya.

Menurut Prevy, merantau merupakan pilihan yang sah bagi anak muda. Namun, pilihan untuk tinggal dan membangun daerah sendiri juga harus tersedia.

Karena itu, pembangunan, menurut gagasan yang disampaikannya, tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jalan dan gedung, tetapi juga bagaimana membuka kesempatan bagi masyarakat untuk bekerja, berusaha, dan meningkatkan taraf hidup.

Pidato itu ditutup dengan pesan yang menjadi inti gagasannya.

“Kami tidak meminta belas kasihan. Kami meminta kesempatan!”

Ia kemudian melanjutkan, “Berikan kami ruang, dan biarkan anak muda NTT mengerjakan sisanya. Dari NTT, untuk Indonesia!”

Menembus Seleksi Nasional

Jalan Prevy menuju tiga besar nasional tidak berlangsung singkat. Kompetisi AHY Muda 2026 merupakan bagian dari rangkaian Lomba Rakyat dalam rangka memperingati HUT ke-25 Partai Demokrat.

Kompetisi tersebut diikuti 1.317 peserta dari 31 provinsi. Setelah melalui sejumlah tahapan seleksi, peserta mengerucut hingga tersisa sembilan finalis yang berhak tampil pada tahap akhir di Jakarta.

Prevy menjadi satu-satunya wakil NTT yang berhasil menembus tiga besar nasional.

Kompetisi mengusung tema “Memajukan Ekonomi, Menegakkan Keadilan dan Menjaga Demokrasi”. Para peserta diberi ruang untuk menyampaikan gagasan mengenai berbagai persoalan kebangsaan dari perspektif generasi muda.

Bagi dunia pendidikan NTT, pencapaian Prevy menunjukkan bahwa siswa SMK tidak hanya dapat mengembangkan keterampilan teknis. Pendidikan kejuruan juga dapat menjadi ruang untuk membangun kemampuan berpikir kritis, komunikasi publik, dan keberanian menyampaikan gagasan.

AHY Apresiasi Para Finali.

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono turut memberikan apresiasi terhadap penampilan para finalis.

Dalam sambutannya, AHY menyampaikan rasa bahagia dan haru setelah menyaksikan kemampuan para peserta muda.

“Saya sungguh berbahagia dan terharu. Tadi mata saya berkaca-kaca, terkesima dan membayangkan jika semakin banyak generasi kita seperti ini,” kata AHY.

Apresiasi tersebut menjadi bagian dari momentum penghargaan terhadap anak muda yang berani tampil dan menyampaikan gagasan tentang masa depan Indonesia.

Membawa Nama NTT

Keberhasilan Prevy tidak terlepas dari dukungan keluarga, sekolah, guru, dan pendamping selama mengikuti kompetisi.

Dalam persiapan menuju final nasional, Prevy mendapat pendampingan dari Winston Neil Rondo sebagai mentor, bersama Semi Ndolu dan Sandra Sanbein.

Dari ruang kelas SMK Negeri 4 Kupang hingga panggung nasional di Jakarta, perjalanan Prevy menunjukkan bahwa kesempatan untuk tampil dan berkembang dapat membuka ruang yang lebih luas bagi anak muda dari daerah.

Ia datang ke Jakarta membawa nama NTT. Ia pulang membawa penghargaan nasional sekaligus pesan tentang pentingnya menciptakan kesempatan bagi generasi muda di daerah.

Anak muda NTT memiliki potensi dan gagasan. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut memperoleh ruang untuk tumbuh menjadi karya dan kesempatan ekonomi.(Rjb)