Petani Kecil Timor di Garis Depan Krisis Iklim, Namun Tetap Paling Tersisih

PATROLICIA COM PROPINSI NTT Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagi ribuan petani kecil di pulau Timor, krisis itu sudah hadir dan memukul sumber hidup mereka setiap musim tanam. Kekeringan berulang, gagal panam, hingga kerusakan tanah akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan menjadi “wajah baru” pertanian yang makin rapuh.

Dalam pelatihan jurnalis bertema keadilan iklim yang digelar Yayasan Media Flores Peduli (YMFP) di Kupang, Sabtu (22/11/2025), Yayasan CIRMA menyerukan agar isu ini masuk ke jantung kebijakan publik dan liputan media.

Direktur CIRMA, John Ladjar, mengingatkan bahwa petani kecil adalah kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi karbon, tetapi justru menanggung dampak terburuk krisis iklim.

“Mereka yang paling sedikit merusak lingkungan justru yang paling menderita. Karena itu mereka yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan iklim harus ikut membantu kelompok rentan,” ujar John.

Sejak awal 2025, CIRMA mendampingi petani di 30 desa di Timor Barat untuk memahami risiko iklim dan membangun strategi adaptasi

Lingkaran Kemiskinan Agraris yang Tak Putus

Hasil pemetaan CIRMA mengungkap delapan tantangan serius yang menghambat kemampuan petani kecil bertahan dalam situasi iklim ekstrem:

25 dari 30 desa tidak memiliki sumber air permanen untuk mengairi lahan pertanian.

Bantuan alat dan mesin pertanian acap tidak tepat sasaran.

Lahan sempit dan tersebar, membuat produksi tidak efisien.

Ketergantungan pupuk kimia memperparah kerusakan struktur tanah.

Bibit terlambat, tidak menyesuaikan kalender tanam yang bergeser.

Informasi iklim dari BMKG terlambat sampai dan sulit dipahami.

Kelompok tani hanya bergerak saat ada bantuan proyek.

Pendampingan pemerintah tidak berkelanjutan.

Situasi ini membuat petani terus berputar dalam jebakan kemiskinan agraris. Hasil panen merosot, biaya produksi meningkat, sementara pengetahuan adaptasi tidak merata.

Untuk menjawabnya, CIRMA memperkenalkan pendekatan Triple-A:
Attitude (pola pikir), Access (akses teknologi dan pasar), serta Asset (penguatan aset produktif).

Badai Seroja Adalah Peringatan

Senior Advisor CIRMA, Berchmans (Mans) Mau Bria, menegaskan bahwa peristiwa ekstrem seperti Badai Seroja 2021 harus dilihat sebagai sinyal kuat perubahan iklim yang mengancam NTT.

“Badai Seroja sudah memukul kita. Itu bukan peristiwa biasa. Itu peringatan keras perubahan iklim,” kata Mans.

Ia menyoroti masih lemahnya pemberitaan media yang tidak mengaitkan data ilmiah dengan realitas hidup petani, misalnya gagal panen yang kini semakin sering terjadi.

Menurut dia, BMKG juga perlu menyesuaikan penyampaian informasi iklim ke format yang mudah dipahami dan menjangkau masyarakat tanpa akses internet.

Tanpa Inklusi, Adaptasi Iklim Tak Berkeadilan

Koordinator Program CIRMA, Bonaventura Taco, menekankan pentingnya memastikan tidak ada kelompok rentan yang tertinggal, termasuk penyandang disabilitas yang kerap dipinggirkan saat terjadi krisis iklim maupun kelaparan.

CIRMA baru-baru ini melakukan aksi uji aksesibilitas pada kantor layanan publik dengan kursi roda — sebagai kritik terbuka atas kebijakan yang tidak mempertimbangkan kelompok difabel.

“Pendekatan kami berbasis data, persuasif, tetapi tegas pada isu,” ujarnya.

Bonaventura menegaskan bahwa kebijakan adaptasi iklim tidak boleh menjadi proyek jangka pendek yang hilang setelah dana habis.

“Ini harus menjadi gerakan berkelanjutan, bukan proyek sesaat.”

Krisis yang Menunggu Keberpihakan

Peningkatan suhu, degradasi tanah, dan ancaman kekeringan panjang berpotensi mengguncang ketahanan pangan NTT. Jika pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan media tidak mengambil langkah cepat dan terukur, maka petani kecil Timor yang selama ini menopang pangan lokal akan menjadi kelompok pertama yang tumbang.

Keadilan iklim, bagi mereka, bukan slogan.
Melainkan syarat untuk tetap hidup di tanah sendiri.(Rjb)

Namun Tetap Paling TersisihPetani Kecil Timor di Garis Depan Krisis Iklim