Dari Sayur hingga BPJS: Janji Muhammad Ansor untuk Warga Sikumana”

3,277

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.    Suara warga RT 15 Kelurahan Sikumana menggema di sebuah halaman sederhana, saat Ir. H. Muhammad Ansor, anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Golkar, menggelar agenda resesnya. Di antara tawa anak-anak dan deru sepeda motor yang lalu-lalang, satu hal menjadi jelas: harapan tak pernah padam di tengah keterbatasan.

Dalam pertemuan itu, Ansor membuka dialog langsung dengan warga. Ia ingin memastikan, dari ratusan RT di Kota Kupang, tak ada satu pun yang tertinggal. “RT 15 ini tidak boleh kosong program. Minimal harus ada satu tanda mata dari saya,” tegasnya di hadapan warga.

Lalu ia menawarkan pilihan bantuan yang sudah masuk dalam paket usulan lewat LPM—antara budidaya lele atau penanaman sayur. Dengan cepat, para ibu-ibu mengangkat tangan dan serempak memilih bantuan sayur. “Bayam saja, Pak. Di sini dekat sumber air,” ujar salah satu warga, disambut anggukan setuju dari hadirin.

Ansor mengangguk. Baginya, pilihan itu bukan sekadar soal bibit, tetapi bukti partisipasi warga yang tahu apa yang dibutuhkan. Ia pun menegaskan bahwa semua program seperti ini harus diusulkan setahun sebelumnya. “Kalau tidak diajukan tahun lalu, tahun ini tidak bisa turun. Begitulah proses pemerintah,” jelasnya sambil menyinggung pentingnya peran tokoh masyarakat dalam menyusun aspirasi.

Tak berhenti pada bantuan pangan, warga menyampaikan keluhan lain: jalan lingkungan yang rusak berat. “Ini jalan di kota, tapi rasanya seperti di kampung,” kata seorang warga. Ansor tak menampik. “Betul. Tapi kita juga paham, dana kota terbatas karena digunakan untuk banyak hal. Saya akan bantu dorong ini ke Pemkot dan DPRD Kota agar ada intervensi lebih besar,” katanya.

Salah satu momen paling mengharukan muncul saat seorang ibu menyinggung soal BPJS. Masih ada warga miskin yang belum memiliki jaminan kesehatan, dan ketika sakit harus membayar sebagai pasien umum. Ansor langsung merespons: “Siapkan nama dan KTP enam orang yang belum punya BPJS. Saya akan bantu usulkan agar mereka mendapat BPJS gratis. Ini hak dasar, bukan belas kasihan.”

Ia juga menyampaikan sikap tegas terhadap rumah sakit yang memulangkan pasien sebelum benar-benar pulih. “Saya tidak mau dengar ada pasien disuruh pulang karena sudah empat atau lima hari dirawat. Kalau seperti itu, silakan lapor ke saya langsung. Tak ada kompromi dalam urusan kesehatan rakyat,” ujarnya dengan suara lantang.

Reses hari itu bukan sekadar seremonial politik. Di balik permintaan soal air bersih, pupuk, dan kelompok tani, ada potret warga Sikumana yang ingin hidup lebih layak. Dan di hadapan mereka, berdiri seorang wakil rakyat yang tidak hanya mendengar, tapi juga berjanji untuk memperjuangkan.

Muhammad Ansor menutup reses dengan catatan penuh. Ia membawa pulang lebih dari sekadar data: ia membawa harapan yang sederhana—namun nyata—dari gang-gang sempit Sikumana.(Rjb)