“Keracunan Massal Siswa SMP di Kupang: Orang Tua dan Pemerhati Sosial Desak Evaluasi Program Makan Gratis”
PATROLICIA COM PROPINSI NTT Kupang, 23 Juli 2025 Kasus keracunan yang menimpa puluhan siswa SMP Negeri 8 Kota Kupang, Selasa (22/7), menimbulkan gelombang keprihatinan dari berbagai pihak. Pemerhati masalah sosial Andre Goru, S.Pd., menyebut insiden ini sebagai bukti lemahnya pengawasan terhadap program makan bergizi gratis yang digulirkan pemerintah pusat.

“Ini tidak perlu terjadi. Program makan bergizi gratis seharusnya sudah melalui tahapan verifikasi yang ketat. Ini menyangkut keselamatan anak-anak,” ujar Andre saat dijumpai media di sela aktivitasnya mendampingi petani kecil di wilayah Timor Barat.
Andre menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rantai distribusi makanan di sekolah, mulai dari bahan baku hingga penyajian. Ia juga meminta pemerintah pusat tidak tinggal diam dan segera bertindak tegas agar kejadian serupa tidak terulang di tempat lain.
“Segera evaluasi dan pastikan semua makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar layak makan dan bergizi,” tegas Andre.
Orang Tua Siswa Desak Pertanggungjawaban
Kekhawatiran serupa datang dari para orang tua siswa. Salah satu orang tua, Yuliana Tefa, mengaku panik saat mendapat kabar anaknya mengalami muntah-muntah dan harus dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap makanan yang disediakan di sekolah.
“Saya tidak habis pikir, makanan yang katanya bergizi malah buat anak saya keracunan. Kami titip anak ke sekolah, bukan untuk jadi korban,” ujar Yuliana dengan nada kecewa.
Ia menuntut pihak sekolah dan penyedia jasa katering bertanggung jawab atas insiden ini, dan meminta Dinas Kesehatan Kota Kupang segera membuka hasil uji laboratorium terhadap makanan tersebut secara transparan kepada publik.
Pemerintah Diminta Tidak Abai
Hingga berita ini diturunkan, Dinas Kesehatan Kota Kupang bersama pihak sekolah masih melakukan penyelidikan. Sementara beberapa siswa yang sempat dirawat di rumah sakit mulai dipulangkan, namun trauma masih membekas di kalangan orang tua.
“Kami butuh kepastian bahwa besok anak-anak kami aman makan di sekolah. Jangan sampai program pemerintah justru mencelakakan mereka,” tambah Yuliana.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program makan gratis yang digalakkan pemerintah dalam rangka menekan angka stunting dan meningkatkan gizi pelajar. Publik kini menantikan langkah cepat dan nyata dari pemerintah pusat maupun daerah untuk memperbaiki sistem dan menjamin keselamatan generasi penerus bangsa.(Rjb)