“Koperasi Bantu Koperasi”: Gagasan Revolusioner Sekertaris jenderal Dewan koperasi Sekjen RI, Assoc. Prof.Dr. Walid., M.Si

3,408

PATROLICIA COM PROPINSI NTT        S Sekertaris jenderal Dewan Koperasi Republik Indonesia (Sekjen RI), Assoc. Prof. Dr. Walid, S.Pd., M.Si., menggaungkan semangat baru dalam dunia perkoperasian Indonesia. Dalam sebuah pernyataan penting, Prof. Walid menegaskan perlunya penguatan prinsip ketujuh koperasi: kerja sama antar koperasi sebagai tonggak solidaritas ekonomi nasional.

“Koperasi harus bisa saling bantu, tapi jangan sampai bantu-bantu malah jadi persoalan baru,” ujar Prof. Walid dalam sebuah pernyataan di Semarang, merujuk pada pentingnya kontrak dan kejelasan tanggung jawab dalam setiap kerja sama koperasi.

Lebih lanjut, Prof. Walid menekankan bahwa koperasi yang telah mapan dan memiliki modal cukup perlu membuka tangan membantu koperasi lain yang masih berkembang, seperti Koperasi Merah Putih. Namun, menurutnya, kerja sama tersebut harus dibingkai dalam kontrak yang kuat dan akuntabel.

“Bila tidak diikat dengan kesepakatan hukum yang jelas, bisa-bisa yang membantu malah menjadi korban,” ungkap akademisi dan tokoh koperasi nasional yang telah memperoleh berbagai penghargaan nasional, termasuk Tokoh Penggerak Koperasi Tingkat Utama dari DEKOPIN tahun 2024.

Dikenal luas sebagai dosen, peneliti, sekaligus inovator di bidang statistik dan pendidikan matematika, Prof. Walid juga telah merancang berbagai program pengabdian kepada masyarakat, utamanya dalam digitalisasi pembelajaran dan penguatan usaha koperasi berbasis komunitas.

Langkah Prof. Walid tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga tantangan bagi gerakan koperasi di seluruh Indonesia. Di tengah semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi, ia menyerukan bahwa solidaritas harus diimbangi dengan tanggung jawab hukum yang tegas.

“Hidup sekali harus bisa bermanfaat buat banyak umat dan bermakna di manapun berada,” tutur Prof. Walid, mengutip moto hidupnya yang menjadi semangat utama dalam membangun ekosistem koperasi nasional yang inklusif dan berdaya saing.(Rjb)