“Desa Palakahembi Bergerak Lawan Tuberkulosis: Harmoni Kampus, Puskesmas, dan Warga”

3,286

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.      Upaya menekan angka tuberkulosis (TBC) tidak cukup dilakukan di rumah sakit atau puskesmas. Keterlibatan masyarakat desa menjadi kunci untuk menemukan kasus lebih cepat sekaligus mematahkan stigma sosial yang kerap membuat pasien enggan berobat.

Kesadaran itulah yang mendorong Program Studi DIII Keperawatan Waingapu Poltekkes Kemenkes Kupang meluncurkan “Tuberculosis Harmony Project” di Desa Palakahembi, Kabupaten Sumba Timur. Program ini menghadirkan pelatihan kader, penyuluhan kesehatan, hingga screening TB yang dilaksanakan bersama Puskesmas Kawangu.

Tahap pelatihan berlangsung pada 29 September 2025 dengan 13 peserta dari unsur kader posyandu, kepala dusun, aparat desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Materi yang disampaikan dosen keperawatan, Sekretaris Desa, serta Kepala Puskesmas Kawangu menekankan pencegahan, pendampingan pasien, hingga keterampilan komunikasi untuk mengurangi stigma. Evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan: skor peserta naik dari kisaran 40–90 menjadi 75–100.

Kegiatan berlanjut pada awal Oktober dengan penyuluhan bagi masyarakat Dusun Palakahembi. Edukasi tentang gejala, pencegahan, serta pentingnya minum obat teratur disampaikan bersamaan dengan kegiatan Posyandu. Puskesmas Kawangu juga menggelar uji tuberkulin, pemeriksaan kesehatan, dan pengobatan gratis bagi warga.

Sekretaris Desa Palakahembi, Amelia Kanda, menilai program ini memberi semangat baru bagi warganya. “Masyarakat lebih memahami apa yang harus dilakukan untuk mencegah dan mendampingi pasien TBC. Kehadiran dosen dan mahasiswa menumbuhkan kesadaran bersama,” ujarnya. Kepala Puskesmas Kawangu, Rambu Mema, menambahkan, “Kolaborasi ini memperkuat upaya promotif dan preventif kami di lapangan.”

Dari sisi akademisi, Ketua Tim Pengabmas, Yosephina Elizabeth Sumartini Gunawan, menegaskan tujuan utama program adalah menciptakan desa peduli TBC yang tangguh dan berkelanjutan. “Kami ingin gerakan ini diteruskan kader dan masyarakat, bukan berhenti sebagai acara seremonial,” katanya.

Suara masyarakat pun menguatkan optimisme. “Kami jadi lebih percaya diri mendampingi pasien TB. Dulu banyak yang takut, tapi sekarang kami tahu cara memberi dukungan,” ungkap seorang kader posyandu. Seorang warga menambahkan, “Kalau ada tetangga kena TB, justru harus didukung, bukan dijauhi.”

Dengan langkah kolaboratif ini, Desa Palakahembi diharapkan menjadi model desa peduli TB, sekaligus mendukung target nasional eliminasi tuberkulosis pada 2030.