Dari Iman Politik hingga Klinik Hukum, PDI Perjuangan NTT Dorong Politik yang Berpihak pada Orang Kecil

3,743

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.      Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Yunus H. Takandewa, menegaskan bahwa politik tidak boleh berhenti pada retorika kekuasaan, melainkan harus berakar pada iman, ideologi, dan keberpihakan nyata kepada rakyat kecil.

Penegasan tersebut disampaikan Yunus dalam acara syukuran pelantikan pengurus DPD PDI Perjuangan NTT yang digelar di Kupang, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dirancang sebagai ruang refleksi politik, spiritual, dan kemanusiaan.

Dalam konteks peringatan Hari Ulang Tahun ke-67 Provinsi NTT, Yunus menyampaikan harapan agar daerah ini terus berjalan di jalur kesejahteraan yang adil bagi lebih dari tiga juta penduduknya. Ia menekankan bahwa pembangunan NTT membutuhkan kepemimpinan politik yang berlandaskan nilai moral dan keberanian berpihak.

“Politik yang kehilangan iman dan ideologi akan menjauh dari rakyat. Karena itu, PDI Perjuangan harus terus meneguhkan politik yang bermartabat,” ujar Yunus.

Momentum tersebut juga diwarnai doa bagi almarhum mantan Gubernur NTT sekaligus mantan Ketua DPD PDI Perjuangan NTT. Menurut Yunus, doa tersebut bukan sekadar penghormatan personal, melainkan pengingat bahwa kekuasaan politik pada akhirnya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara moral.

Syukuran pelantikan ini menghadirkan tausiah lintas iman, di antaranya dari Ustaz Farhan (Muhammadiyah). Kehadiran tokoh agama lintas keyakinan itu menegaskan pesan bahwa perjuangan politik PDI Perjuangan tidak dibangun di atas sekat-sekat identitas, melainkan nilai kemanusiaan universal.

Yunus menegaskan bahwa PDI Perjuangan kini secara sistematis memperkuat fondasi ideologinya. Salah satu langkah konkret adalah pembentukan Baitul Muslimin Indonesia sebagai badan partai yang berfungsi membina kader secara ideologis, spiritual, dan sosial.

“Penguatan ideologi bukan slogan. Ia harus diwujudkan dalam pembinaan kader yang berkesinambungan dan kerja nyata di tengah masyarakat,” kata Yunus.

Penajaman arah politik tersebut juga terlihat dari aksi sosial partai. Melalui Badan Penanggulangan Bencana, DPD PDI Perjuangan NTT menghimpun donasi solidaritas sebesar Rp55 juta bagi korban bencana di Sumatera dan Aceh. Donasi itu digalang secara swadaya oleh kader sebagai bentuk tanggung jawab sosial lintas daerah.

Di bidang keadilan sosial, PDI Perjuangan NTT membentuk Klinik Hukum untuk mendampingi masyarakat kecil, terutama korban kekerasan yang kerap terpinggirkan dalam sistem hukum. Salah satu kasus bahkan telah didampingi langsung hingga ke Polda NTT.

Langkah tersebut, menurut Yunus, merupakan wujud nyata politik keberpihakan. “Semakin sedikit pidato dan semakin banyak kerja untuk orang kecil, di situlah nilai kemanusiaan diuji,” ujarnya.

Acara syukuran ini dihadiri para Ketua DPC PDI Perjuangan kabupaten/kota, pimpinan DPRD, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta insan media. Kegiatan ditutup dengan doa bersama, sebagai peneguhan arah politik PDI Perjuangan NTT ke depan: kuat secara ideologi, humanis dalam tindakan, dan konsisten berpihak kepada rakyat. Iman Politik hingga Klinik Hukum, PDI Perjuangan NTT Dorong Politik yang Berpihak pada Orang Kecil
Kupang, Kompas — Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Yunus H. Takandewa, menegaskan bahwa politik tidak boleh berhenti pada retorika kekuasaan, melainkan harus berakar pada iman, ideologi, dan keberpihakan nyata kepada rakyat kecil.
Penegasan tersebut disampaikan Yunus dalam acara syukuran pelantikan pengurus DPD PDI Perjuangan NTT yang digelar di Kupang, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dirancang sebagai ruang refleksi politik, spiritual, dan kemanusiaan.
Dalam konteks peringatan Hari Ulang Tahun ke-67 Provinsi NTT, Yunus menyampaikan harapan agar daerah ini terus berjalan di jalur kesejahteraan yang adil bagi lebih dari tiga juta penduduknya. Ia menekankan bahwa pembangunan NTT membutuhkan kepemimpinan politik yang berlandaskan nilai moral dan keberanian berpihak.
“Politik yang kehilangan iman dan ideologi akan menjauh dari rakyat. Karena itu, PDI Perjuangan harus terus meneguhkan politik yang bermartabat,” ujar Yunus.
Momentum tersebut juga diwarnai doa bagi almarhum mantan Gubernur NTT sekaligus mantan Ketua DPD PDI Perjuangan NTT. Menurut Yunus, doa tersebut bukan sekadar penghormatan personal, melainkan pengingat bahwa kekuasaan politik pada akhirnya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara moral.
Syukuran pelantikan ini menghadirkan tausiah lintas iman, di antaranya dari Ustaz Farhan (Muhammadiyah). Kehadiran tokoh agama lintas keyakinan itu menegaskan pesan bahwa perjuangan politik PDI Perjuangan tidak dibangun di atas sekat-sekat identitas, melainkan nilai kemanusiaan universal.
Yunus menegaskan bahwa PDI Perjuangan kini secara sistematis memperkuat fondasi ideologinya. Salah satu langkah konkret adalah pembentukan Baitul Muslimin Indonesia sebagai badan partai yang berfungsi membina kader secara ideologis, spiritual, dan sosial.
“Penguatan ideologi bukan slogan. Ia harus diwujudkan dalam pembinaan kader yang berkesinambungan dan kerja nyata di tengah masyarakat,” kata Yunus.
Penajaman arah politik tersebut juga terlihat dari aksi sosial partai. Melalui Badan Penanggulangan Bencana, DPD PDI Perjuangan NTT menghimpun donasi solidaritas sebesar Rp55 juta bagi korban bencana di Sumatera dan Aceh. Donasi itu digalang secara swadaya oleh kader sebagai bentuk tanggung jawab sosial lintas daerah.
Di bidang keadilan sosial, PDI Perjuangan NTT membentuk Klinik Hukum untuk mendampingi masyarakat kecil, terutama korban kekerasan yang kerap terpinggirkan dalam sistem hukum. Salah satu kasus bahkan telah didampingi langsung hingga ke Polda NTT.
Langkah tersebut, menurut Yunus, merupakan wujud nyata politik keberpihakan. “Semakin sedikit pidato dan semakin banyak kerja untuk orang kecil, di situlah nilai kemanusiaan diuji,” ujarnya.
Acara syukuran ini dihadiri para Ketua DPC PDI Perjuangan kabupaten/kota, pimpinan DPRD, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta insan media. Kegiatan ditutup dengan doa bersama, sebagai peneguhan arah politik PDI Perjuangan NTT ke depan: kuat secara ideologi, humanis dalam tindakan, dan konsisten berpihak kepada rakyat.