PDI Perjuangan NTT Teguhkan Politik Gotong Royong, Yunus Takandewa: Kesabaran Bukan Kelemahan

3,744

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.          PDI Perjuangan kembali menegaskan jati dirinya sebagai partai ideologis yang teruji oleh sejarah dan tekanan politik. Di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai kritik tajam hingga perundungan, partai berlambang banteng moncong putih itu memilih sikap disiplin dan terukur—menghindari kegaduhan, tanpa kehilangan arah perjuangan utama: kesejahteraan rakyat.
Ketua DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur (NTT) Yunus H. Takandewa menegaskan, sikap menahan diri yang selama ini ditunjukkan partainya kerap disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, menurut dia, kesabaran justru merupakan bagian dari strategi perjuangan politik yang berpihak pada rakyat.
“Kesabaran PDI Perjuangan sering disalahartikan sebagai kelemahan. Itu keliru. Kami menahan diri demi rakyat, tetapi ketika ideologi dan marwah perjuangan diinjak, kami akan berdiri paling depan,” kata Yunus di Kupang.
Yunus menegaskan, PDI Perjuangan tidak akan berkompromi terhadap praktik politik yang mengkhianati nilai dan prinsip dasar perjuangan. Ideologi, kata dia, merupakan fondasi yang tidak bisa ditawar dalam kerja-kerja politik.
“Kami tidak akan berkompromi dengan pengkhianatan. Politik tanpa ideologi adalah kekosongan, dan PDI Perjuangan tidak akan membiarkan perjuangan rakyat dikosongkan oleh kepentingan sesaat,” ujarnya.
Meski demikian, Yunus menekankan bahwa PDI Perjuangan selalu berada di barisan depan ketika bangsa dan daerah membutuhkan kerja bersama. Gotong royong menjadi napas utama partai, baik dalam membangun kekuatan organisasi maupun dalam memperjuangkan kebijakan publik yang berpihak pada masyarakat.
Di NTT, semangat tersebut diwujudkan melalui konsolidasi kader hingga tingkat akar rumput, penguatan disiplin organisasi, serta keberpihakan pada isu-isu strategis daerah seperti pengentasan kemiskinan, kemandirian ekonomi rakyat, dan perlindungan kelompok rentan.
Seluruh gerak politik PDI Perjuangan NTT, lanjut Yunus, tetap berpijak pada ajaran Tri Sakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
“Kami tidak mengejar tepuk tangan elite. Ukuran keberhasilan kami adalah apakah dapur rakyat menyala, anak-anak bisa sekolah, dan petani serta nelayan hidup bermartabat,” kata Yunus.
Ia menegaskan, PDI Perjuangan menyadari jalan perjuangan ini tidak mudah. Namun dengan konsistensi ideologi, disiplin organisasi, dan kepercayaan rakyat, PDI Perjuangan NTT optimistis tetap menjadi kekuatan politik yang bekerja nyata, bukan sekadar bersuara.(Rjb/team)