Dua Kampus Timur Bangun Paradigma Baru Pertanian, Tantang Dominasi Teori Jawa Demi Kedaulatan Pangan Kepulauan
PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Dominasi pendekatan pertanian berbasis lahan basah kontinental selama puluhan tahun dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan ketahanan pangan di kawasan kepulauan Indonesia Timur. Perbedaan karakter tanah, iklim, dan bentang alam membuat banyak kebijakan pertanian nasional tidak efektif ketika diterapkan di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku Utara.
Kesadaran itulah yang melandasi kolaborasi Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate. Sinergi kedua perguruan tinggi tersebut diarahkan untuk membangun paradigma baru pertanian kepulauan melalui penggabungan riset agroekosistem semi-arid khas NTT dengan ekosistem tropis basah yang menjadi karakter Maluku Utara.
Kolaborasi ini tidak sekadar memperluas kerja sama akademik, tetapi menjadi upaya menyusun fondasi ilmu pertanian yang lebih relevan dengan kondisi wilayah kepulauan. Selama ini, banyak konsep budidaya tanaman, pola tanam, hingga strategi ketahanan pangan disusun berdasarkan pengalaman wilayah daratan luas, sehingga kurang adaptif ketika diterapkan di daerah yang memiliki keterbatasan air, kondisi tanah berbeda, serta tantangan distribusi antarpulau.
Melalui riset bersama, kedua perguruan tinggi berupaya menghasilkan inovasi yang lahir dari karakteristik lokal Indonesia Timur. Potensi tersebut mencakup pengembangan varietas tanaman pangan yang lebih tahan terhadap perubahan iklim ekstrem, teknologi irigasi hemat air, serta sistem agribisnis yang mampu menjawab tantangan distribusi pangan di kawasan kepulauan.
Dalam jangka panjang, hasil riset itu diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pertanian yang lebih kontekstual. Pendekatan berbasis agroekologi kepulauan diyakini dapat menekan risiko gagal panen, meningkatkan produktivitas petani, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah yang selama ini rentan terhadap gejolak iklim dan tingginya biaya logistik.
Kolaborasi Undana dan Unkhair sekaligus menjadi penegasan bahwa keragaman ekosistem Indonesia bukan hambatan pembangunan pertanian. Sebaliknya, perbedaan karakter wilayah merupakan modal ilmiah untuk melahirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Dengan demikian, pengembangan ilmu pertanian tidak lagi bertumpu pada satu model yang seragam, melainkan memberi ruang bagi lahirnya paradigma baru yang berakar pada realitas wilayah kepulauan Indonesia.(Rjb)