Dari Kelor hingga Tenun, UMKM Kabupaten Kupang Raup Omzet Belasan Juta per Bulan

3,792

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT.      Upaya pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kupang mulai menunjukkan hasil. Melalui pembinaan Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan, sejumlah pelaku UMKM mampu mengembangkan produk berbasis potensi lokal dengan omzet yang terus meningkat.


Salah satu pelaku UMKM binaan, yang digerakkan oleh keluarga Riki Rima, mengandalkan produksi mandiri berbasis bahan lokal. Mulai dari pengolahan daun kelor menjadi teh, produk minyak kelor (PCO), hingga kerajinan tenun yang dimodifikasi menjadi tas, seluruh proses dilakukan secara mandiri—dari pembelian bahan hingga produksi akhir.


“Kami buat sendiri, tidak sambung ke pihak lain. Bahannya kami beli, lalu dijahit sendiri,” ujar Riki saat ditemui.
Produk-produk tersebut dijual dengan harga bervariasi, tergantung ukuran, motif, dan tingkat kesulitan. Untuk produk tas berbahan tenun, harga berkisar antara Rp40.000 hingga Rp60.000 di tingkat produksi. Namun, ketika dipasarkan di lokasi penjualan atau toko, harga dapat meningkat hingga Rp70.000–Rp80.000.
Menariknya, inovasi menjadi kunci peningkatan penjualan. Produk tenun yang dimodifikasi menjadi tas terbukti lebih diminati pasar dibandingkan kain tenun dalam bentuk konvensional.
“Kalau sudah dimodifikasi seperti tas, penjualannya lebih laku,” katanya.
Dalam sebulan, UMKM ini mampu menjual lebih dari 500 produk dengan omzet mencapai sekitar Rp10 juta. Produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan di sejumlah toko di Kota Kupang, tetapi juga telah menjangkau pasar luar daerah.
Usaha yang telah dirintis lebih dari lima tahun ini turut melibatkan peran perempuan dalam proses produksi, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pemerintah daerah sendiri disebut telah memberikan dukungan berupa bantuan untuk pengembangan usaha. Dukungan ini dinilai penting dalam menjaga keberlanjutan produksi sekaligus mendorong pelaku UMKM naik kelas.
Kisah ini menjadi gambaran bahwa penguatan sektor UMKM berbasis potensi lokal, jika dikelola secara konsisten dan inovatif, mampu menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.(Rjb)