Tenun NTT Naik Kelas, Mahasiswa Undana Buktikan Kampus Bisa Lahirkan Pengusaha Muda

3,799

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Universitas Nusa Cendana (Undana) mendorong perubahan paradigma pendidikan tinggi dari sekadar mencetak pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Melalui program One School One Product (OSOP) yang dipadukan dengan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) Masuk Kampus, mahasiswa didorong membangun usaha berbasis potensi lokal sejak masih berada di bangku kuliah.

Program tersebut tidak hanya membuka akses terhadap legalitas usaha dan pembiayaan, tetapi juga pendampingan bisnis hingga pemasaran digital terpadu. Dengan pendekatan itu, hasil riset dan kreativitas mahasiswa diharapkan mampu berkembang menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi.

Implementasi program mulai menunjukkan hasil. Karlin Babys, mahasiswa semester IV Program Studi D-III Tenun Ikat Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana, meluncurkan merek fesyen Marafem Morris yang mengangkat motif tenun khas Nusa Tenggara Timur dalam desain busana modern. Usaha rintisan tersebut tidak hanya memasarkan produk berbasis budaya lokal, tetapi juga telah membuka lapangan kerja dengan melibatkan lulusan sekolah menengah kejuruan dan para penjahit di Kota Kupang.

Model usaha seperti ini dinilai menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menghubungkan inovasi akademik dengan kebutuhan pasar sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

Lebih jauh, Undana menilai pengembangan OSOP menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan ekonomi daerah yang selama ini masih bergantung pada penjualan komoditas mentah. Rendahnya hilirisasi membuat berbagai hasil pertanian dan kerajinan dari NTT dijual dengan nilai tambah yang minim, sementara produk olahannya justru kembali dipasarkan ke daerah dengan harga lebih tinggi.

Di sisi lain, setiap tahun ribuan lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja yang terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar lulusan masih berorientasi pada perebutan formasi aparatur sipil negara, sementara peluang membangun usaha produktif belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui integrasi pembiayaan KUR dengan pembinaan kewirausahaan di lingkungan kampus, Undana berupaya mengubah kondisi tersebut. Kampus diarahkan menjadi ruang lahirnya pelaku usaha baru berbasis riset, inovasi, dan potensi sumber daya lokal.

Dalam jangka panjang, hasil penelitian dan tugas akhir mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah yang mampu memperkuat industri kreatif daerah. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya menciptakan peluang kerja baru, tetapi juga ikut menjaga keberlanjutan budaya lokal melalui inovasi produk yang memiliki daya saing di pasar nasional maupun global.(Rjb)