PATROLICIA COM PROPINSI NTT Ada dua pernyataan dari Calon Gubernur NTT, Yohanes Fransiskus Lema atau Ansy Lema yang tidak disetujui oleh dua orang Calon Gubernur NTT lainnya yaikni Melki Lakalena dan Simon Petrus Kamlasi. Pertama, soal NTT Adalah Supermarket Bencana dan kedua, soal strategi mengatasi nilai tukar petani yang mengalami fluktuasi di tengah perubahan iklim dan cuaca ekstrim.
Pertama, Calon Gubernur NTT, Yohanes Fransiskus Lema atau Ansy Lema menjawab salah satu pertanyaan dalam debat kedua Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT 2024-2029 pada Rabu, 06 November 2024 malam dengan mengatakan, bahwa NTT adalah ‘supermarket becana.’ Namun Cagub Melki Lakalena mengingatkan Ansy, bahwa kita tidak sedang jualan masalah di NTT.
“Saya mau kasih catatan sedikit tadi soal supermarket, saya pikir jangan bicara soal supermarket, karena kita tidak sedang jualan masalah di NTT,” tegas Melki Laka Lena.
Tampak dalam debat tersebut, Melki Lakalena tidak setuju dengan pernyataan Ansy Lema tentang NTT adalah supermarket bencana. Dari sebab itu, ketika diberi kesempatan untuk menanggapi, Cagub Melki Lakalena membantah Ansy.
Namun menanggapi komentar Melki Lakalena, Ansy mengklarifikasi bahwa diksi supermarket bencana yang ia maksudkan hanyalah sebuah kiasan untuk menggambarkan, bahwa NTT rawan bencana.
“Kami menyebut supermarket dalam tanda petik, adalah ilustrasi atau kiasan untuk menggambarkan bahwa berbagai jenis bencana ada di NTT ini, sehingga kemudian butuh sikap responsif, dan tentu identifikasi atas sumber kebencanaan ini memang harus dilakukan,” terang Ansy.
Statement Ansy Lema tentang NTT adalah ‘supermarket bencana’ dalam konteks menjawab pertanyaan para panelis tentang strategi tanggap bencana yang ditawarkan Cagub Ansy Lema, untuk memastikan masyarakat NTT hidup aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan dari bencana alam.
Dari sebab itu menurut Ansy, dalam merumuskan pembangunan, kita harus merumuskan program Pembangunan NTT, kita harus memiliki wawasan atau kesadaran terhadap upaya penanganan bencana.
“Oleh karena itu belanja khusus penanganan bencana itu harus dialokasikan di luar belanja yang rutin, yang kita sebutkan sebagai BTT atau Belanja Tidak Terduga. Kedua, mitigasi terhadap bencana dan banjir, kuncinya adalah pada early warning system dan jalin kerjasama dengan berbagai lembaga lain,” jelasnya.
Berikut, menjawab pertanyaan Simon Petrus Kamlasi soal strategi mengatasi nilai tukar petani yang fluktuatif di tengah perubahan iklim.
Ansy dalam menjawab pertanyaan ini mengatakan, bahwa negara termasuk pemerintah provinsi hadir untuk membantu petani mulai dari hulu hingga hilir, dengan diintervensi melalui kebijakan yang pro petani.
Namun jawaban Ansy demikian menurut SPK, itu kalau kondisinya iklimnya ideal, tetapi bagaimana jika dalam kondisi perubahan iklim atau cuaca ekstrim dan gagal panen?
“Karena petani kita, tidak pernah lolos dari (persoalan) yang begini. Tiba-tiba gagal panen, akhirnya bagaimana ni? Nilai tukarnya turun,” kata Cagub Simon Petrus Kamlasi atau SPK.
Oleh karena itu, menurut SPK, strategi lain yang penting yaitu soal bagaimana memilih/menyeleksi benih/bibit lokal yang punya tahan yang baik terhadap perubahan iklim. Selain itu, perlu dilengkapi dengan metode irigasi yang tepat untuk menunjang pertumbuhan tanaman. (Team)