Pelatihan Jurnalis untuk Keadilan Iklim Digelar di Kupang: Dorong Liputan Berbasis Data dan Suara Komunitas
Inisiatif Yayasan Media Flores Peduli perkuat kapasitas jurnalis NTT dalam mengangkat isu iklim yang berdampak pada kelompok rentan.
PATROLI CIA COM PROPINSI NTT Perubahan iklim kini menjadi tantangan terbesar yang dirasakan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama di wilayah pedesaan yang bergantung pada sumber daya alam. Di tengah situasi tersebut, Yayasan Media Flores Peduli (MFP) menggelar Pelatihan Penguatan Kapasitas Jurnalis untuk Keadilan Iklim di Kupang pada 22–24 November 2025, sebagai upaya meningkatkan kualitas liputan media terkait isu iklim berbasis data dan narasi komunitas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Jaringan NGO untuk Keadilan Iklim di Timor Barat, bekerja sama dengan CIRMA, Yayasan Nusa Timor Mandiri, dan didukung oleh Climate Justice Resilience Fund (CJRF) – USA. Program ini ditujukan bagi 10 jurnalis dari berbagai media cetak, radio, televisi, dan online di NTT
Fokus pada Liputan Kritis dan Berbasis Data
Koordinator Program MFP, Bonaventura Taco, menjelaskan bahwa masih banyak pemberitaan media di NTT yang berhenti pada dimensi bencana alam tanpa mengupas akar persoalan struktural, sosial, serta kebijakan yang mempengaruhi kerentanan masyarakat.
“Kami ingin memperkuat pemahaman jurnalis dan mendorong lahirnya karya jurnalistik yang kritis, informatif, serta berpihak pada kelompok yang paling terdampak perubahan iklim,” ujar Bonaventura.
Pelatihan ini dirancang menggunakan metode partisipatif melalui paparan narasumber ahli, diskusi tematik, simulasi liputan, dan mentoring penyusunan rencana liputan kolaboratif.
Materi Pelatihan: Dari Kebijakan Iklim hingga Teknik Investigasi
Selama tiga hari, peserta mendapatkan enam materi inti:
1. Keadilan Iklim di NTT: Konsep, Kebijakan, dan Aksi Lokal – oleh John Ladjar (CIRMA).
2. Dampak Perubahan Iklim pada Petani dan Perempuan – oleh Mans Bria.
3. Etika dan Perspektif Jurnalisme Lingkungan – oleh Dr. Marsel Robot.
4. Teknik Liputan Berbasis Data dan Narasi Komunitas – oleh Frans Pati Herin.
5. Media dan Advokasi Kebijakan untuk Keadilan Iklim – oleh Kosmas Olla.
6. Kolaborasi Media–NGO–Komunitas dalam Advokasi Publik – oleh Bonaventura Taco.
Selain materi, peserta juga diminta menghasilkan minimal 10 produk jurnalistik bertema keadilan iklim untuk dipublikasikan di berbagai platform media lokal.
Diharapkan Terbentuk Forum Jurnalis Keadilan Iklim
Salah satu tujuan strategis dari kegiatan ini ialah pembentukan Forum Jurnalis untuk Keadilan Iklim NTT sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi berkelanjutan. Forum ini diharapkan menjadi ruang bagi jurnalis untuk berbagi data, memperkuat jaringan dengan NGO, serta mengawal kebijakan publik di sektor lingkungan dan perubahan iklim.
Kegiatan Dihadiri Akademisi dan Praktisi Media
Pelatihan dibuka dengan Launching Program yang dihadiri Direktur MFP Andreas Goru, perwakilan NGO, dan para narasumber dari kalangan akademisi serta praktisi media. Dalam sambutannya, Andreas menegaskan pentingnya peran jurnalis sebagai garda terdepan dalam penyebaran informasi publik yang akurat.
“Jurnalis memiliki peran strategis sebagai penghubung suara masyarakat terdampak dengan para pemangku kebijakan,” katanya.
Mendorong Liputan Iklim yang Lebih Humanis
NTT merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim di Indonesia: kekeringan berkepanjangan, berkurangnya debit air, kegagalan panen, hingga meningkatnya tekanan terhadap kelompok perempuan dan petani kecil.
Melalui pelatihan ini, MFP berharap jurnalis dapat mengangkat kisah-kisah lokal, memperkuat perspektif keadilan iklim, dan menghadirkan liputan yang tidak hanya menggambarkan bencana, tetapi juga menelusuri faktor penyebab dan solusi berbasis komunitas.(Rjb)