Wagub NTT Temui Diaspora di Bali, Tekankan Adaptasi Budaya demi Jaga Harmoni Sosial

3,809

PATROLICIA COM PROPINSI NTT.        Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menggelar silaturahmi dan dialog bersama masyarakat diaspora NTT asal Sumba yang bekerja di Provinsi Bali, Selasa (17/3/2026). Pertemuan yang berlangsung di H-Culture Building itu menjadi ruang menyerap aspirasi sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan warganya di perantauan.
Dalam arahannya, Johni menekankan pentingnya menjaga sikap dan menaati norma yang berlaku di lingkungan setempat. Ia menilai, sejumlah persoalan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir dipicu oleh belum optimalnya kemampuan adaptasi sebagian warga terhadap budaya lokal Bali.
“Hal ini memicu keluhan dari masyarakat setempat dan berpotensi mengganggu keharmonisan sosial. Karena itu, pembinaan dan pemahaman harus terus dilakukan agar diaspora kita bisa beradaptasi dengan baik,” ujar Johni.
Ia menegaskan, pemerintah daerah telah memiliki kesepahaman di tingkat pimpinan. Namun, perhatian pada masyarakat di tingkat akar rumput—terutama yang bekerja di proyek-proyek konstruksi—tetap menjadi prioritas. Koordinasi yang intens antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas diaspora dinilai penting untuk mendeteksi serta mencegah potensi konflik sejak dini.
Johni juga mengingatkan warga NTT di Bali untuk menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya setempat, menjaga solidaritas antarsesama, serta menghindari perilaku yang dapat memicu gangguan ketertiban, termasuk konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
“Bangun Bali, bangun NTT, dan bangun keluarga kita. Mari kita ciptakan kedamaian dan kenyamanan di mana pun kita berada,” katanya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah pimpinan perangkat daerah Pemprov NTT, serta tokoh masyarakat dan organisasi, antara lain Ikatan Flobamora dan perwakilan Majelis Desa Adat.
Ketua Ikatan Flobamora, Herman Umbu Billi, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah daerah yang secara konsisten menjalin komunikasi dengan diaspora. Menurut dia, kehadiran langsung pimpinan daerah menjadi bukti nyata kepedulian terhadap warga NTT di perantauan.
Senada, Sekretaris Umum Majelis Desa Adat, Dewa Rai Asmara, menilai kunjungan tersebut penting untuk memperkuat pembinaan dan pemahaman masyarakat terhadap sistem desa adat di Bali yang memiliki kewenangan otonom dalam mengatur kehidupan sosial.
Ia juga mencatat bahwa situasi pasca pencabutan pembatasan terhadap warga NTT di Bali relatif kondusif, tanpa adanya persoalan berarti.
Sementara itu, perwakilan komunitas pelayanan keagamaan di kawasan hunian pekerja proyek menekankan peran gereja dalam membina dan mengayomi diaspora tanpa membedakan latar belakang.
Melalui dialog ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk menjaga ketertiban, memperkuat keharmonisan, serta membangun citra positif masyarakat NTT di Bali.