Kontraktor dan BPJN NTT Kompak Bungkam Soal Dugaan Penggunaan Material Galian C Ilegal di Proyek IJD Ruas Nangamboa-Watumite
PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Direktur CV Dharma Bhakti Persada, Yanto Dharmawa selaku kontraktor proyek IJD ruas Nangamboa-Watumite Rp14,3 Miliar dan PPK 4.2, Saur Turnip kompak bungkam alias diam seribu bahasa, terkait dugaan adanya penggunaan material galian C illegal dari tambang galian C illegal, di desa Tendaondo Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.

PMKRI Cabang Ende pada Rabu (08/04/2026) pagi melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD dan Kantor Bupati Ende. PMKRI minta Kapolda NTT, Irjen Pol. Rudi Dharmoko melalui Dirkrimum Polda NTT, segera turun tangan memeriksa kontraktor terkait galian C illegal di Sungai Desa Nangamboa.

Koordinator Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PMKRI Cabang Ende, Ancis dalam orasinya minta Bupati Ende, Yosep Badeoda tidak hanya memikirkan keindahan kota Ende, tetapi soal kelestarian lingkungan hidup, yang menunjang kehidupan komunitas masyarakat lokal sekitarnya.
“Bapak Bupati selalu memikirkan soal keindahan kota, tetapi tidak memikirkan soal keindahan lingkungan, ekologi yang ada di masyarakat desa Tendaondo,” kritik Ancis, salah satu orator PMKRI dalam orasinya.
Direktur CV Dharma Bhakti Persada, Yanto Dharmawa yang dihubungi media ini pada Kamis (09/04) pukul 21:56 WITA tuntutan PMKRI tidak menjawab. Pesan whatssapp/WA konfirmasi wartawan kepada kontraktor tertanda centang dua dan ada keterangan tersampaikan dan dibaca, tetapi Yanto tak menjawab.
Sementara itu PPK 4.2 PJN NTT, Saur Turnip yang dikonfirmasi media ini sejak Rabu (08/04/2026) terkait pengerjaan proyek IJD Nangamboa-Watumite dugaan kerjasama penggunaan material galian C illegal dari tambang illegal dari Desa Tendaondo, hingga berita ini ditayang pun tak menjawab.
Senada dengan PMKRI, warga yang tinggal di sekitar lokasi tambang di Desa Tendaondo juga ikut meminta Kapolda NTT, Irjen Pol. Rudi Dharmoko melalui aparatnya segera memanggil kontraktor dan BPJN NTT, untuk diperiksa terkait dugaan tambang illegal tersebut.
Mereka menduga batu dan pasir diambil dari sungai tersebut untuk kebutuhan perkerasan jalan, saluran, dan tembok penahan tebing proyek IJD Nangamboa-Watumite. Mereka meragukan kualitas material yang digunakan, yang diduga tidak melalui standar uji laboratorium sehingga dapat berdampak pada lemahnya daya tahan jalan yang telah dibangun.