RAT Swasti Sari Ricuh: Palu Diketok Sepihak, Pimpinan Sidang Dituding Otoriter dan Abaikan Aspirasi Anggota

3,777

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT.      Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSP Kopdit Swasti Sari Tahun Buku 2025 berakhir ricuh dan menyisakan kekecewaan mendalam di kalangan peserta. Forum yang seharusnya menjadi ruang demokratis tertinggi dalam koperasi justru diwarnai dugaan pengondisian peserta, pembatasan hak bicara anggota, hingga pengesahan keputusan yang dinilai cacat prosedur.

Sejak awal jalannya sidang, suasana forum dinilai tidak kondusif. Sejumlah peserta menduga adanya pengaturan pihak-pihak tertentu yang ditempatkan secara sistematis untuk mempengaruhi opini anggota. Narasi yang dibangun cenderung membenarkan langkah-langkah pengurus dan pengawas, meski dinilai bertentangan dengan mekanisme yang semestinya.

Ketegangan memuncak ketika pimpinan sidang, Erni Katana, secara sepihak mengetok palu pengesahan setelah sekretaris sidang membacakan berita acara susunan kepengurusan. Dokumen tersebut diketahui belum ditandatangani oleh salah satu calon pengurus, Yohanes Sason Helan, sehingga dinilai belum sah untuk disahkan.

Sejumlah anggota yang berupaya menyampaikan interupsi dan meminta penjelasan mengaku tidak diberi ruang bicara. Sebaliknya, forum justru memberikan kesempatan luas kepada pihak-pihak tertentu yang diduga telah disiapkan untuk menggiring opini peserta RAT.

“Setiap kali kami minta bicara, tidak diberi kesempatan. Tapi orang-orang tertentu selalu diprioritaskan,” ujar salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya.

Situasi semakin memanas saat pengesahan tetap dilakukan meskipun gelombang interupsi dari peserta terus bergulir. Keputusan tersebut memicu protes keras karena dianggap tidak memenuhi prinsip musyawarah dan persetujuan bersama.

Alih-alih meredakan ketegangan, pimpinan sidang justru meninggalkan forum bersama Ketua Pengurus, Lambertus Ara Tukan, saat suasana memuncak. Tindakan ini semakin memperkeruh keadaan dan meninggalkan ketidakjelasan atas hasil RAT.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan final terkait penetapan Ketua Pengurus dan Pengawas KSP Kopdit Swasti Sari periode 2026–2028. Ketidakpastian tersebut menambah keresahan di kalangan anggota yang mengharapkan kepastian arah kepemimpinan koperasi.

Kekecewaan semakin terasa mengingat RAT tersebut sebelumnya dibuka secara resmi oleh Menteri Koperasi, Ferry Joko Juliantono dan dihadiri Wakil Gubernur NTT, Johny Asa Doma.
Harapan akan terselenggaranya forum yang tertib, transparan, dan demokratis justru berujung pada konflik terbuka.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius mengenai komitmen tata kelola koperasi yang sehat dan demokratis. Sejumlah anggota mendesak adanya evaluasi menyeluruh serta penegakan aturan organisasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.