Belajar dari Bali: Kepala OJK NTT Pimpin Langsung Studi Lapangan Tingkatkan Nilai Ekonomi Petani

3,774

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama sejumlah insan media melakukan kegiatan touring ke Provinsi Bali guna mempelajari praktik terbaik pengelolaan pertanian padi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi petani.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala OJK Provinsi NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata, yang hadir bersama jajaran staf. Kehadiran pimpinan OJK tersebut menegaskan keseriusan dalam mendorong penguatan sektor riil, khususnya pertanian, sebagai pilar ekonomi daerah.
Kunjungan difokuskan di unit penggilingan padi (Rice Milling Unit/RMU) Boki Murni yang dikelola oleh Pande Putu Widya Paramarta di Subak Bengkel, Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Lokasi ini dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan integrasi sistem pertanian tradisional dengan pendekatan agribisnis modern.
Dalam pemaparannya, pengelola RMU menjelaskan bahwa kunci keberhasilan terletak pada sistem Subak—organisasi tradisional pengelolaan air berbasis komunitas petani. Di Subak Bengkel, sekitar 500 petani mengelola lahan sawah seluas kurang lebih 330 hektar dengan pola tanam yang terkoordinasi.
“Petani tidak berjalan sendiri. Semua berbasis kelompok, dengan aturan dan kesepakatan bersama, mulai dari pengairan, pola tanam, hingga penentuan harga,” ujarnya.
Selain itu, Subak Bengkel juga mengembangkan unit usaha mandiri, seperti penyediaan pupuk, simpan pinjam, hingga penggilingan padi. Distribusi pupuk dilakukan langsung melalui organisasi Subak tanpa perantara, dengan sistem kepercayaan sosial sebagai jaminan.
Dalam aspek hilirisasi, RMU Boki Murni dilengkapi fasilitas modern seperti mesin pengering (dryer), penggilingan, hingga pemoles beras (polisher). Teknologi ini meningkatkan kapasitas produksi hingga 3–4 ton per jam sekaligus menjaga kualitas beras agar mampu bersaing di pasar.
Salah satu praktik unggulan yang menjadi perhatian rombongan adalah mekanisme penentuan harga berbasis lelang. Petani menjual gabah secara kolektif, sehingga pembeli bersaing memberikan harga terbaik. Sistem ini memperkuat posisi tawar petani dan mendorong peningkatan kualitas produksi.
“Harga tidak lagi ditentukan tengkulak. Petani punya daya tawar karena mereka bersatu dan menjaga kualitas,” jelas pengelola.
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara petani, pengelola, lembaga keuangan, dan pemerintah. Dukungan dari Bank Indonesia, OJK, serta perbankan daerah melalui pembiayaan berbunga rendah turut memperkuat ekosistem pertanian.
Kepala OJK NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata, menilai praktik di Bali dapat menjadi referensi bagi pengembangan sektor pertanian di NTT, khususnya dalam membangun sistem agribisnis berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir inovasi dan adaptasi model serupa di NTT, sehingga petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pelaku utama yang memiliki kendali dalam rantai nilai pertanian.
Transformasi tersebut diyakini menjadi kunci peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan di daerah.(Rjb)