Modal KUR, Mimpi Besar: Kisah Henos Membangun Usaha dan Membuka Lapangan Kerja di Kupang

3,777

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT    Usaha mikro yang dikelola dengan ketekunan dan didukung akses pembiayaan yang tepat dapat menjadi jalan bagi pelaku usaha untuk tumbuh dan menciptakan lapangan kerja. Kisah itu tercermin dari perjalanan Henos Efendi Serak, pengusaha muda di Kelurahan Oesapa Barat, Kota Kupang, yang berhasil mengembangkan usaha advertising dari skala rumahan menjadi bisnis yang melayani beragam kebutuhan masyarakat.

Berawal dari usaha kecil yang dirintis pada tahun 2020, Henos mengembangkan bengkel kreatif yang semula dikenal sebagai pembuat batu kubur menjadi usaha advertising dan percetakan dengan layanan yang jauh lebih luas. Kini, usahanya melayani pembuatan huruf timbul, plakat, spanduk, stempel, plat nomor kendaraan, hingga berbagai produk promosi dan percetakan lainnya.

Perjalanan usaha tersebut tidak lepas dari dukungan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Sebagai nasabah BRI sejak 2015, Henos mengaku memperoleh suntikan modal yang membantunya memperbesar kapasitas usaha.

“Awalnya saya mendapat KUR Rp75 juta dan kemudian kembali memperoleh pembiayaan sebesar Rp100 juta. Modal itu sangat membantu pengembangan usaha,” ujar Henos saat ditemui di tempat usahanya, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Henos, akses pembiayaan menjadi faktor penting bagi pelaku usaha mikro untuk meningkatkan skala bisnis. Ketersediaan modal memungkinkan pengusaha memenuhi kebutuhan produksi, memperluas layanan, serta meningkatkan kualitas pekerjaan yang ditawarkan kepada pelanggan.

Ia menilai keberadaan KUR telah memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil untuk terus berkembang. Jika usahanya semakin besar dan memenuhi ketentuan yang berlaku, Henos mengaku tidak ragu kembali memanfaatkan fasilitas pembiayaan tersebut.

Perlahan tetapi pasti, usaha yang dibangun dari kerja keras itu mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian keluarganya. Meski

pendapatan usaha masih berfluktuasi, omzet terendah yang diperoleh setiap bulan berada di kisaran Rp5 juta.
Pendapatan tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, operasional usaha, pembayaran listrik, hingga cicilan usaha. Bahkan, sebagian masih dapat disisihkan sebagai tabungan untuk pengembangan usaha di masa depan.

Tidak hanya menopang ekonomi keluarga, usaha yang dirintis Henos juga mulai menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Saat ini ia mempekerjakan dua karyawan tetap dan beberapa tenaga freelance yang jumlahnya dapat mencapai tujuh orang ketika permintaan pekerjaan meningkat.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan keberhasilan pelaku usaha seperti Henos menunjukkan bahwa akses pembiayaan produktif memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi masyarakat.

Menurut dia, ketika usaha mikro berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan pemilik usaha, tetapi juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di lingkungan sekitar.

“Pelaku usaha mikro dan kecil merupakan tulang punggung perekonomian daerah. Karena itu BRI terus berupaya menghadirkan akses pembiayaan yang mudah dan produktif agar para pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas bisnisnya,” kata Hery.

BRI, lanjut Hery, berkomitmen mendampingi pelaku usaha sejak tahap perintisan hingga mampu naik kelas. Dukungan pembiayaan diharapkan dapat mendorong lahirnya lebih banyak usaha produktif yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Bagi Henos, perjalanan usahanya menjadi bukti bahwa keterbatasan modal bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan kerja keras, inovasi, dan dukungan pembiayaan yang tepat, usaha kecil dapat berkembang menjadi sumber penghidupan sekaligus membuka peluang bagi orang lain.

“Harapan saya, BRI terus berkembang dan semakin banyak membantu pelaku usaha kecil agar bisa maju bersama,” ujarnya.

Di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah, kisah Henos menjadi gambaran bahwa sektor usaha mikro tetap memiliki ruang besar untuk tumbuh. Ketika akses modal bertemu dengan semangat kewirausahaan, lahirlah usaha-usaha lokal yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.