Perbatasan Bergerak: BI NTT Catat Lonjakan Transaksi Digital dan Partisipasi UMKM

3,778

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Lapangan Simpang Lima Atambua, Kabupaten Belu, dipadati ribuan warga pada Sabtu (8/8/2026) malam. Kehadiran mereka menandai penutupan Garuda Sakti Cross Border Fest 2026, sebuah festival yang tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kedaulatan Rupiah dan menggerakkan ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.


Festival yang berlangsung sejak 4 hingga 8 Agustus 2026 itu digagas Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama berbagai pemangku kepentingan. Melalui pendekatan edukasi, budaya, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta digitalisasi transaksi, kegiatan tersebut menjadi upaya konkret memperkuat ekonomi kawasan perbatasan.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT Alfin Ari Wijayanto mengatakan, Garuda Sakti Cross Border Fest merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara lain.

“Kegiatan ini menjadi bentuk sinergi berbagai pihak dalam menjaga kedaulatan ekonomi bangsa sekaligus memperkuat posisi Rupiah sebagai simbol negara di kawasan perbatasan,” ujarnya dalam acara penutupan.

Dukungan juga datang dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Ketua Tim Event Internasional Kementerian Pariwisata RI Arya Galih Anindita menilai festival tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ajang hiburan masyarakat, tetapi juga membuka ruang inovasi dan promosi bagi pelaku UMKM lokal.

Menurut Arya, kegiatan seperti ini memiliki dampak ekonomi yang lebih luas karena mampu mempertemukan edukasi, promosi produk lokal, dan peningkatan kapasitas pelaku usaha dalam satu momentum yang sama.

Pemerintah Kabupaten Belu pun menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan festival tersebut. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Belu Nikolaus Umbu K. Birri menilai kolaborasi antara Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata, dan berbagai pihak telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat perbatasan.

Selama lima hari pelaksanaan, festival menghadirkan berbagai kompetisi pendidikan dan kreativitas yang melibatkan pelajar dari tingkat SD hingga SMA/SMK. Beragam lomba seperti mewarnai, cerdas cermat, ranking satu, pidato, inovasi, hingga tari kreasi menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan literasi kebangsaan.

Penghargaan juga diberikan kepada guru-guru penggerak yang bertugas di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Apresiasi tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi mereka dalam mencerdaskan anak-anak bangsa di kawasan perbatasan.

Lebih dari 5.000 warga diperkirakan menghadiri malam penutupan festival. Selain menikmati pertunjukan seni dan musik, masyarakat juga mengikuti berbagai kegiatan edukasi mengenai Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, penggunaan QRIS, serta program PEKA yang dikemas melalui kuis interaktif.

Festival ini juga menjadi panggung bagi 120 UMKM lokal untuk mempromosikan produknya kepada masyarakat. Kehadiran pelaku usaha tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan UMKM menghadapi transformasi ekonomi digital yang terus berkembang.

Salah satu capaian yang mendapat perhatian adalah meningkatnya penggunaan transaksi digital. Selama pelaksanaan pasar murah yang menjadi bagian dari festival, tercatat sebanyak 2.977 transaksi menggunakan QRIS. Angka tersebut menunjukkan semakin tingginya penerimaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital yang dinilai lebih praktis, aman, dan efisien.

Bank Indonesia NTT menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan digital di kawasan perbatasan. Ke depan, edukasi mengenai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah akan terus diperluas melalui berbagai program, termasuk pengembangan Pojok Literasi CBP Rupiah di Atambua.

Dengan berakhirnya Garuda Sakti Cross Border Fest 2026, semangat menjaga kedaulatan Rupiah dan memperkuat ekonomi perbatasan diharapkan tidak berhenti pada sebuah festival. Dari Atambua, pesan itu kembali ditegaskan: wilayah perbatasan bukan halaman belakang Indonesia, melainkan beranda depan yang harus terus diperkuat agar semakin maju, berdaya saing, dan sejahtera.(Rjb)