Bawang Merah NTT Tembus 20 Ton per Hektar, Kementan Bidik Daerah Ini Jadi Lumbung Jagung Nasional

3,773

PATROLI CIA COM PROVINSI NTT Kementerian Pertanian melihat Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki peluang besar menjadi salah satu sentra produksi jagung nasional sekaligus penghasil bawang merah unggulan di Indonesia.

Potensi lahan kering yang luas serta produktivitas pertanian yang terus meningkat menjadi modal utama untuk mendorong transformasi sektor pangan di daerah tersebut.

Direktur Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Dr Ir Lidiyani Retno Widowati M.Sc, mengatakan kondisi agroklimat dan karakteristik lahan di NTT sangat mendukung pengembangan tanaman pangan maupun hortikultura secara bersamaan.

“Potensi NTT sangat besar. Tanaman pangan seperti jagung dan komoditas hortikultura seperti bawang merah dapat berkembang berdampingan karena kondisi lahannya sangat sesuai,” kata Lidiyani saat menghadiri Gebyar Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida di Kabupaten Kupang, Jumat (14/8/2026).


Menurut dia, capaian produktivitas bawang merah yang ditampilkan petani NTT menunjukkan hasil yang menggembirakan. Produksi bawang merah di sejumlah lokasi bahkan mampu melampaui rata-rata nasional.

“Produktivitas bawang merah di sini bisa mencapai lebih dari 20 ton per hektar. Sementara rata-rata nasional masih berada di kisaran 10 ton per hektar. Ini menunjukkan potensi besar yang harus terus dikembangkan,” ujarnya.

Selain bawang merah, Kementerian Pertanian juga menilai performa tanaman jagung yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut menunjukkan hasil yang menjanjikan. Kondisi tongkol yang terisi penuh hingga ujung menjadi indikator bahwa teknologi budidaya dan penggunaan benih unggul mulai memberikan hasil nyata di lapangan.

Lidiyani menilai produktivitas jagung yang ditampilkan petani berpeluang berada di atas rata-rata nasional. Namun, peningkatan hasil panen tetap harus didukung penerapan teknologi budidaya yang tepat, terutama dalam penggunaan pupuk sesuai rekomendasi.

Menurut dia, pemerintah melalui berbagai lembaga riset dan pendampingan teknis terus memberikan rekomendasi terkait kebutuhan pupuk yang sesuai bagi tanaman jagung maupun bawang merah. Dukungan tersebut penting untuk memastikan produktivitas tetap tinggi tanpa mengurangi kesuburan tanah.

Untuk komoditas jagung, petani juga dapat memanfaatkan pupuk bersubsidi yang telah disediakan pemerintah. Sementara untuk bawang merah, skema dukungan pupuk akan terus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

Lebih jauh, Lidiyani menegaskan bahwa NTT memiliki peluang besar menjadi salah satu lumbung jagung nasional, khususnya untuk memenuhi kebutuhan jagung pangan. Luas lahan kering yang mencapai sekitar 4,9 juta hektar menjadi kekuatan strategis yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Saat ini lahan yang digunakan untuk tanaman pangan baru sekitar 1,6 juta hektar. Artinya masih tersedia ruang yang sangat besar untuk pengembangan produksi pangan di NTT,” katanya.

Posisi geografis NTT yang berada di kawasan timur Indonesia juga dinilai memberikan keuntungan tersendiri. Peningkatan produksi jagung dari daerah ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga berpotensi memasok wilayah lain di Indonesia Timur, termasuk Maluku dan Papua.

Kementerian Pertanian berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, perguruan tinggi, produsen benih, serta pelaku usaha terus diperkuat agar NTT dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru sektor pertanian nasional.

Dengan dukungan teknologi budidaya modern, benih unggul, pemupukan berimbang, dan pendampingan berkelanjutan, NTT dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu motor penggerak ketahanan pangan Indonesia dari kawasan timur.(PSS)